RADARPAPUA - Seorang penulis abad ke-19, Howard Pyle, menciptakan banyak cerita tentang bajak laut abad ke-17, dari kostum mereka yang mencolok hingga harta karun yang mereka sembunyikan.
Dalam bukunya yang diterbitkan setelah kematiannya, "Howard Pyle’s Book of Pirates" (1921), ia menggambarkan Port Royal dengan sangat nyata:
"Pada tahun 1665, datanglah semua bajak laut dan perompak ke kota Port Royal... Mereka bersorak, bersumpah, berjudi, dan menghamburkan uang seperti air, lalu mungkin mengakhiri pesta mereka dengan mati karena demam.
Di mana-mana terlihat banyak wanita berhias dan bajak laut dengan syal merah dan pernak-pernik emas, semuanya bertengkar dan berjudi untuk mendapatkan harta yang mereka curi dari Spanyol."
Inggris merebut Jamaika dari Spanyol pada tahun 1655. Mereka melihat potensi pelabuhan ini di pintu masuk Kingston Harbour dan memperkuat pertahanannya.
Pelabuhan diperluas untuk menampung kapal. Pedagang datang ke sana, tetapi selain perdagangan sah, kota ini juga menjadi pusat kegiatan bajak laut.
Pada pertengahan abad ke-17, Inggris dan Spanyol sering berperang di laut. Rencana Inggris sederhana: mereka memberi izin kepada bajak laut untuk menyerang kapal Spanyol di laut dan darat.
Bajak laut ini dikenal sebagai buccaneer atau privateer, sebuah bentuk pembajakan yang disetujui negara.
Port Royal menjadi pusat bajak laut dunia karena letaknya yang strategis di Karibia. Bajak laut terkenal seperti Henry Morgan menggunakan kota ini sebagai basis untuk menyerang kota-kota Spanyol.
Serangannya yang sukses membuatnya mendapatkan gelar bangsawan dan kekuasaan politik di Jamaika. Morgan meninggal kaya pada tahun 1688 dan dimakamkan di pemakaman Palisadoes di Jamaika.
Sikap Port Royal terhadap bajak laut berubah sesuai situasi politik. Saat Inggris dan Spanyol berperang, bajak laut dipuji, tetapi ketika hubungan membaik, bajak laut dihukum.
Pada awal abad ke-18, gubernur baru Jamaika, Nicholas Lawes, membawa Angkatan Laut Inggris untuk memburu bajak laut di Port Royal.
Dukungan lokal terhadap bajak laut menurun setelah beberapa bajak laut terkenal ditangkap dan dieksekusi, termasuk Calico Jack Rackham, Anne Bonny, Mary Read, dan Charles Vane.
Pada pagi 7 Juni 1692, sebuah gempa besar melanda Port Royal. Tanah berguncang hebat, membelah dan menelan orang serta rumah-rumah.
Sebuah tsunami mengikuti gempa, menenggelamkan sebagian besar Port Royal, termasuk pemakaman tempat Henry Morgan dimakamkan. Sekitar 2.000 orang tewas seketika, dan ribuan lainnya meninggal kemudian.
Karena reputasi buruknya, banyak orang melihat bencana ini sebagai hari penghakiman. Pendeta kota merasa terdorong untuk tinggal dan membantu para korban, meskipun tempat itu dihantam bencana dan dijarah setiap malam.
Kota yang tenggelam ini tetap tak tersentuh selama hampir 300 tahun sampai arkeolog laut mulai menemukan artefak di sana.
Pada tahun 1956, Edwin Link dan istrinya Marion melakukan eksplorasi pertama. Mereka menemukan banyak artefak, termasuk dinding bata dan barang-barang rumah tangga.
Penemuan paling menarik adalah jam tangan kuningan elegan yang berhenti tepat pada saat gempa terjadi: 17 menit sebelum tengah hari.
Eksplorasi awal ini membuka jalan untuk penelitian lebih lanjut. Dari tahun 1981, Universitas Texas A&M memimpin penggalian selama 10 tahun yang mengungkap lebih banyak artefak dan memberikan gambaran yang lebih hidup tentang kehidupan di pelabuhan bajak laut paling terkenal di Karibia pada abad ke-17.(RP)
Editor : Via Ponamon