RADARPAPUA - Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa graffiti yang ditemukan di tembok-tembok Pompeii tidak hanya sekadar coretan biasa, tetapi juga menjadi bukti adanya jaringan sosial yang rumit di kalangan warga Pompeii sebelum kota itu dihancurkan oleh letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79 M.
Penelitian ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana masyarakat Pompeii berinteraksi satu sama lain melalui tulisan-tulisan singkat yang ditinggalkan di dinding-dinding kota.
Tim peneliti yang mempelajari graffiti ini menemukan bahwa banyak dari pesan-pesan tersebut berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, politik, dan hubungan pribadi di antara warga.
Sebagian besar graffiti ini ditulis oleh warga yang ingin menyampaikan pesan kepada orang lain, baik itu untuk mempromosikan suatu acara, mengungkapkan cinta, atau bahkan sekadar berbagi humor.
Para peneliti menyimpulkan bahwa graffiti ini memainkan peran penting dalam komunikasi sehari-hari dan menunjukkan adanya jaringan sosial yang aktif di Pompeii.
Graffiti-graffiti ini mencakup berbagai topik, mulai dari komentar politik hingga pesan cinta dan ejekan. Sebagai contoh, beberapa tulisan mengomentari pemilihan pejabat lokal, sementara yang lain menyinggung hubungan romantis atau persahabatan di antara warga.
Peneliti percaya bahwa graffiti ini berfungsi sebagai media sosial kuno, memungkinkan warga Pompeii untuk terhubung dan berkomunikasi dengan cara yang mirip dengan apa yang kita lakukan di media sosial saat ini.
Penemuan ini menunjukkan bahwa warga Pompeii tidak hanya menggunakan graffiti sebagai bentuk ekspresi pribadi, tetapi juga sebagai cara untuk memengaruhi opini publik dan membentuk komunitas.
Dalam konteks yang lebih luas, penelitian ini menambah pemahaman kita tentang bagaimana masyarakat kuno menggunakan ruang publik untuk berkomunikasi dan berinteraksi.
Dengan semakin berkembangnya teknologi digital, metode penelitian yang digunakan dalam studi ini memberikan peluang baru untuk mempelajari lebih dalam tentang jaringan sosial di masa lalu.
Graffiti Pompeii, yang selama ini mungkin dianggap remeh, kini memberikan petunjuk berharga tentang dinamika sosial dan budaya yang ada sebelum bencana menghancurkan kota.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan