Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Para Arkeolog Ungkap Sejarah Panjang Penguburan di Gurun Libya dengan Temuan Kerangka Zaman Batu

Richard Lawongan • Rabu, 11 September 2024 | 20:12 WIB

Kerangka Zaman Batu di Gurun Sahara.
Kerangka Zaman Batu di Gurun Sahara.

RADARPAPUA -
Para arkeolog baru saja menemukan 20 kerangka manusia dari Zaman Batu di sebuah gua batu di Gurun Sahara, Libya. Kerangka-kerangka ini berasal dari 8.000 hingga 4.200 tahun yang lalu. Penemuan ini menunjukkan bahwa tempat tersebut digunakan sebagai kuburan selama ribuan tahun oleh penduduk setempat.

"Tempat ini pasti memiliki arti penting," kata Mary Anne Tafuri, seorang arkeolog dari Universitas Cambridge. "Orang-orang terus menggunakannya untuk menguburkan anggota keluarga mereka selama beberapa generasi."

Baca Juga: Peti Mati Timbal Misterius Ditemukan: Siapa Wanita Penting di Samping Raja Richard III?

Sebagian besar yang dimakamkan di gua ini adalah perempuan dan anak-anak, sementara laki-laki dan remaja dimakamkan di luar gua di bawah tumpukan batu besar yang disebut tumuli ketika daerah itu berubah menjadi gurun.

Penemuan ini, yang dipublikasikan di Jurnal Arkeologi Antropologi, juga menunjukkan bahwa budaya masyarakat setempat berubah seiring dengan perubahan iklim.

Baca Juga: Jamur Pemakan Plastik: Harapan Baru di Tengah Krisis Polusi Global

Kerangka Zaman Batu di Gurun Sahara.
Kerangka Zaman Batu di Gurun Sahara.

Penguburan Selama Ribuan Tahun

Sekitar 8.000 hingga 6.000 tahun yang lalu, wilayah Sahara yang disebut Wadi Takarkori masih ditutupi tumbuhan dan hijau di beberapa bagian. Seni lukis batu kuno di daerah itu menggambarkan ternak, seperti sapi, yang membutuhkan banyak air, lebih banyak dari yang tersedia di gurun saat ini.

Tafuri dan rekannya, Savino di Lernia, mulai menggali situs tersebut pada tahun 2003 hingga 2006. Di sana, mereka juga menemukan gubuk, tulang hewan, dan pot yang mengandung sisa-sisa produk susu fermentasi paling awal di Afrika.

Untuk mengetahui usia kerangka, Tafuri memeriksa sisa-sisa tulang dengan mengukur isotop, yaitu molekul dari unsur yang sama tetapi memiliki berat yang berbeda. Dari hasil pengujian, mereka menyimpulkan bahwa kerangka-kerangka tersebut dikuburkan selama empat milenium (ribuan tahun), dengan kebanyakan berasal dari 7.300 hingga 5.600 tahun yang lalu.

Pria dan remaja di bawah tumpukan batu mulai dimakamkan sekitar 4.500 tahun yang lalu, ketika daerah itu mulai menjadi lebih kering.

Kerangka Zaman Batu di Gurun Sahara.
Kerangka Zaman Batu di Gurun Sahara.

Perubahan Budaya?

Penemuan ini juga menunjukkan bahwa tempat penguburan tersebut digunakan oleh kelompok masyarakat yang sama selama ribuan tahun. Menariknya, hanya perempuan dan anak-anak yang dimakamkan di dalam gua, sementara laki-laki dimakamkan di luar, menunjukkan adanya perbedaan berdasarkan jenis kelamin.

Pada masa sebelumnya, perempuan mungkin memiliki peran penting dalam masyarakat. Namun, saat gurun Sahara semakin luas sekitar 5.000 tahun yang lalu, budaya mungkin berubah, dan peran laki-laki menjadi lebih dominan.

Wilayah ini juga masih menyimpan banyak situs yang belum digali, yang menunjukkan betapa pentingnya melindungi daerah tersebut. Namun, sejak revolusi yang menggulingkan diktator Moammar Gadhafi, daerah ini telah tertutup untuk para peneliti. (*)

Editor : Richard Lawongan
#Pemakaman Tumpukan Batu #Gurun Sahara #Budaya Purba #Perubahan Iklim #Kerangka Zaman Batu #Seni Lukis Batu #Arkeologi Libya #temuan arkeologi #Wadi Takarkori #Tradisi Pemakaman Kuno