Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Kota-kota Kuno yang Tenggelam: Kisah Peradaban yang Hilang di Bawah Laut

Richard Lawongan • Kamis, 12 September 2024 | 17:43 WIB
Ssalah satu kota yang di buatkembali Pavlopetri di Zaman Perunggu didasarkan pada peninggalan arkeologis.
Ssalah satu kota yang di buatkembali Pavlopetri di Zaman Perunggu didasarkan pada peninggalan arkeologis.

RADAR PAPUA - Di balik legenda tentang kota-kota yang hilang di bawah laut, kenyataannya, banyak kota pesisir kuno yang benar-benar tenggelam dan tersembunyi di dasar laut. Fenomena ini bukanlah sekadar mitos, melainkan peristiwa sejarah yang dipengaruhi oleh perubahan iklim, pergeseran lempeng tektonik, dan bencana alam. Dengan kemajuan teknologi kelautan pada abad ke-20, para arkeolog kini dapat mengungkap kembali kota-kota kuno yang terkubur di bawah air, membawa artefak dan kisah peradaban yang hilang ke permukaan.

Tenggelamnya Kota Pesisir Kuno

Ribuan tahun lalu, beberapa komunitas pesisir di dunia kuno mengalami nasib tragis karena kenaikan permukaan laut. Pada masa Pleistosen, permukaan laut sekitar 425 kaki lebih rendah dibandingkan saat ini. Namun, setelah berakhirnya Zaman Es, pencairan es di kutub menyebabkan kenaikan permukaan laut secara tiba-tiba, menenggelamkan banyak pemukiman prasejarah yang dulunya terletak di pantai. Proyek Submerged Prehistoric Archaeology and Landscapes of the Continental Shelf telah mengidentifikasi 2.600 situs yang tenggelam di 19 negara, termasuk Gua Cosquer di Marseille, Prancis, yang terkenal dengan lukisan-lukisan purbakalanya.

Geologi yang Mengubah Sejarah

Pergeseran bumi yang terus-menerus menyebabkan bencana alam seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, dan tsunami yang berkontribusi pada tenggelamnya banyak kota pesisir. Fenomena ini membuat seluruh wilayah pesisir terendam air, meninggalkan reruntuhan bangunan manusia yang kini tersembunyi di bawah laut. Salah satu contoh paling terkenal adalah kota Helike di Yunani yang lenyap akibat gempa bumi pada tahun 373 SM. Tujuh abad kemudian, gempa bumi berkekuatan 8,3 di Kreta menghasilkan tsunami yang menghancurkan pelabuhan Alexandria di Mesir dan Apollonia di Libya.

Namun, bencana yang terjadi bukan hanya karena gempa dan tsunami. Subsidence, atau penurunan bertahap permukaan tanah akibat aktivitas seismik atau vulkanik, juga memainkan peran penting dalam proses ini. Kota-kota kuno secara perlahan ditelan oleh laut seiring dengan penurunan daratan di sekitarnya. Beberapa kota yang hilang ini baru dapat dieksplorasi pada abad ke-20 dengan perkembangan teknologi arkeologi bawah laut seperti SONAR, robotika, dan pemindaian 3D.

Pavlopetri: Kota yang Hilang di Yunani

Salah satu kota bawah laut tertua yang ditemukan adalah Pavlopetri, yang terletak di semenanjung Peloponnesos, Yunani. Kota ini muncul sebagai pemukiman Neolitik sekitar tahun 3500 SM dan berkembang menjadi pusat perdagangan penting pada era Mycenaean. Pavlopetri mulai tenggelam akibat gempa bumi dan tsunami yang melanda kawasan Laut Aegea. Kota ini akhirnya terendam lebih dari 3.000 tahun yang lalu.

Pada tahun 1967, Nicholas Flemming, seorang ahli oseanografi Inggris, menemukan reruntuhan Pavlopetri di bawah 13 kaki air laut. Berkat teknologi modern, para arkeolog dapat memetakan situs tersebut dan menemukan sekitar 50 bangunan, jaringan jalan, serta dua makam besar yang menunjukkan pentingnya kota ini sebagai pusat perdagangan.

Phanagoria: Kota Pelabuhan di Laut Hitam

Phanagoria, yang didirikan oleh bangsa Ionia pada abad ke-6 SM, adalah kota pelabuhan yang makmur di Semenanjung Taman, dekat Rusia modern. Pada puncaknya, Phanagoria menjadi ibu kota bagian timur Kerajaan Bosporan dan pusat perdagangan utama di wilayah Laut Hitam. Namun, pada milenium pertama Masehi, kota ini mulai tenggelam akibat aktivitas seismik yang signifikan. Bagian dari kota tersebut terendam air laut, dan sisanya hancur oleh invasi dan pertempuran.

Reruntuhan Phanagoria yang berada di daratan telah dieksplorasi sejak abad ke-19, namun bagian yang berada di bawah laut baru mulai diteliti pada tahun 1950-an. Berkat kemajuan teknologi, para arkeolog kini berhasil menemukan pelabuhan kota tersebut serta sisa-sisa kapal perang yang masih terpelihara dengan baik.

Thonis-Heracleion dan Canopus: Pelabuhan Mesir yang Hilang

Dua pelabuhan penting Mesir Kuno, Thonis-Heracleion dan Canopus, tenggelam sekitar 1.200 tahun yang lalu akibat kenaikan permukaan air dan aktivitas seismik. Thonis-Heracleion, yang berfungsi sebagai pusat perdagangan utama, ditemukan kembali oleh arkeolog bawah laut Franck Goddio pada tahun 2000. Sisa-sisa kota tersebut, termasuk kuil Amun-Gereb yang megah, ditemukan terendam di perairan Aboukir Bay. Canopus, yang dulunya merupakan pusat spiritual, juga ditemukan kembali pada tahun 1999 oleh tim Goddio setelah bertahun-tahun pencarian.

Menemukan Jejak Peradaban yang Hilang

Penemuan kota-kota yang tenggelam di dasar laut ini memberikan wawasan berharga tentang kehidupan peradaban kuno yang hilang. Dari Pavlopetri hingga Thonis-Heracleion, setiap situs menawarkan cerita tentang kemakmuran, bencana, dan kehancuran yang dialami manusia dalam sejarah panjangnya melawan kekuatan alam. Dengan kemajuan teknologi arkeologi bawah laut, kita kini dapat membuka lebih banyak rahasia kota-kota kuno yang selama ini terkubur di bawah ombak. (aj)

Editor : Richard Lawongan
#Yunani #canopus #Phanagoria #Pavlopetri #Thonis Heracleion #bawah laut #kota