RADARPAPUA —Sering kali kita berasumsi bahwa manusia ribuan tahun lalu adalah versi kita yang hanya kurang teknologi. Namun, kenyataannya mereka sangat berbeda. Orang-orang di masa itu hidup dalam dunia yang jauh berbeda, dengan nilai moral dan perspektif yang sangat kontras dibandingkan dengan kita saat ini.
Zaman Romawi kuno adalah salah satu contoh terbaik di mana budaya kekerasan menjadi hiburan utama. Colosseum Roma, yang kini dianggap sebagai salah satu keajaiban dunia, dulunya menjadi saksi bisu pembantaian manusia dan hewan yang mengerikan demi hiburan massa. Sejarah mencatat bahwa jutaan orang dan binatang tewas di arena ini, baik dalam pertarungan gladiator, eksekusi publik, maupun pembantaian lainnya.
Dalam artikel yang ditulis oleh Khalid Elhassan untuk History Collection, ia menggambarkan bagaimana Colosseum menjadi pusat hiburan brutal di masa itu. Elhassan menuliskan bahwa pada era Romawi kuno, orang-orang biasa menghabiskan hari-hari mereka menyaksikan pertunjukan mengerikan, dari gladiator yang bertarung hingga eksekusi publik yang dirancang untuk memuaskan nafsu akan kekerasan. Bagi masyarakat Romawi, menyaksikan manusia dibunuh dengan berbagai cara dianggap sebagai hiburan biasa.
Salah satu cerita yang paling mengerikan adalah tentang eksekusi umat Kristen pada masa pemerintahan Kaisar Nero. Setelah kebakaran besar yang melanda Roma, orang-orang Kristen dituduh sebagai pelakunya. Mereka ditangkap dan dieksekusi dengan cara yang sangat kejam, salah satunya dengan dilumuri ter dan dibakar hidup-hidup sebagai "obor manusia" di malam hari. Anehnya, orang-orang Romawi justru menganggap eksekusi tersebut sebagai sesuatu yang lucu dan menghibur.
Selain eksekusi, Colosseum juga dikenal dengan berbagai pertunjukan yang menggabungkan hukuman dengan permainan mematikan. Salah satu yang paling terkenal adalah "jungkat-jungkit Colosseum". Dalam pertunjukan ini, penjahat yang akan dieksekusi ditempatkan di ujung jungkat-jungkit, sementara algojo bersiap untuk melompat dari sisi lainnya. Ketika jungkat-jungkit terangkat, sang terdakwa dilempar ke udara, hanya untuk jatuh ke dalam jebakan di mana hewan-hewan buas seperti singa dan beruang sudah menunggu untuk mencabik-cabiknya. Penonton bersorak gembira melihat penderitaan terdakwa dan kekacauan yang terjadi di arena.
Pemandangan ini mengingatkan kita betapa berbedanya sudut pandang manusia di masa lalu terhadap kehidupan dan kematian. Kekejaman yang kita anggap tidak manusiawi dan tidak bermoral hari ini, dahulu justru menjadi salah satu hiburan terbesar dan mendatangkan keuntungan besar bagi pihak yang mengelola Colosseum.
Sejarah Colosseum tidak hanya memperlihatkan kebrutalan fisik, tetapi juga menunjukkan bagaimana masyarakat Romawi kuno dipengaruhi oleh lingkungan, kebudayaan, dan nilai-nilai yang sangat berbeda dari kita. Dari sudut pandang modern, kita mungkin sulit memahami bagaimana orang bisa menikmati kekerasan seperti itu. Namun, bagi mereka, Colosseum bukan sekadar tempat pertunjukan, tetapi juga simbol kekuasaan, budaya, dan kekayaan. (aj)
Editor : Richard Lawongan