Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Batu Primitif Berusia 4,5 Miliar Tahun Ditemukan di Sahara, Mengguncang Teori Tentang Evolusi Tata Surya

Prisilia Rumengan • Senin, 16 September 2024 | 20:43 WIB
Meteorit akondrit seperti Erg Chech 002 menawarkan petunjuk tentang tahun-tahun awal Tata Surya. ( credit: Yuri Amelin, CC BY)
Meteorit akondrit seperti Erg Chech 002 menawarkan petunjuk tentang tahun-tahun awal Tata Surya. ( credit: Yuri Amelin, CC BY)

RADARPAPUA – Sebuah batu luar angkasa berusia 4,5 miliar tahun yang ditemukan di Sahara telah mengubah pemahaman kita tentang bagaimana Tata Surya terbentuk. Batu yang dikenal sebagai Erg Chech 002 (EC 002) ini dianggap sebagai salah satu objek paling kuno yang pernah ditemukan dari masa awal Tata Surya. Penemuan ini memberikan wawasan mendalam tentang sejarah Tata Surya dan bagaimana planet-planet mulai terbentuk miliaran tahun yang lalu.

Para ilmuwan mengidentifikasi bahwa EC 002, yang ditemukan di bagian barat daya Sahara, adalah sisa dari magma purba yang pernah membentuk kerak di planetesimal, yakni objek kecil yang merupakan bagian awal pembentukan planet. Studi tentang batu ini menunjukkan bahwa ia berasal dari sebuah objek yang terbentuk sangat awal dalam sejarah Tata Surya, jauh sebelum Bumi dan planet-planet lainnya terbentuk.

“Ini adalah penemuan yang luar biasa dan sangat penting untuk memahami awal mula pembentukan Tata Surya kita,” ujar seorang ahli geologi dari Universitas Bretagne Occidentale di Prancis, yang memimpin penelitian ini. Ia menjelaskan bahwa batu ini berbeda dari meteorit lain karena berasal dari kerak planetesimal yang telah mengalami proses pendinginan dan kristalisasi.

Dengan usia lebih dari 4,5 miliar tahun, EC 002 lebih tua dari sebagian besar meteorit yang ditemukan di Bumi, yang biasanya berasal dari asteroid yang terbentuk kemudian. Penelitian terhadap EC 002 menunjukkan bahwa planetesimal yang berasal dari batu ini terbentuk hanya sekitar 2 juta tahun setelah pembentukan butiran debu pertama di Tata Surya. "Ini adalah sisa dari salah satu bangunan pertama Tata Surya," tambahnya.

Batu ini terdiri dari lava vulkanik yang kaya akan mineral feldspar, suatu komposisi yang jarang ditemukan di meteorit biasa, yang umumnya berasal dari asteroid berbatu. Para peneliti percaya bahwa planetesimal yang menghasilkan EC 002 sudah punah atau telah terintegrasi ke dalam planet-planet lain atau benda langit yang lebih besar.

Penemuan ini bukan hanya penting karena usia batu yang sangat tua, tetapi juga karena memberikan bukti fisik tentang bagaimana material planetesimal mengkristal dari magma di awal Tata Surya. Penemuan ini juga menantang asumsi lama tentang bagaimana planet dan planetesimal terbentuk di Tata Surya.

Meskipun meteorit sering memberikan petunjuk tentang awal Tata Surya, batu seperti EC 002 yang berasal dari kerak planetesimal sangat langka dan sulit ditemukan. "Batu seperti ini memberikan kita jendela langsung untuk melihat proses pembentukan planet kecil di Tata Surya," kata seorang peneliti. Ia juga menekankan bahwa penemuan seperti ini sangat penting untuk memahami detail proses-proses yang membentuk planet-planet kita saat ini.

Ke depannya, para ilmuwan berencana untuk melakukan lebih banyak analisis terhadap EC 002, dengan harapan dapat mengungkap lebih banyak informasi tentang sejarah Tata Surya. Mereka juga berharap bahwa penemuan ini akan mendorong penelitian lebih lanjut tentang batu luar angkasa kuno lainnya yang dapat membantu menjelaskan evolusi Tata Surya lebih mendalam.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#batu meteor #meteor #bintang #luar angkasa #penemuan #arkeologi #Astronomi #Miliar Tahun #tata surya