RADARPAPUA - Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa seniman kuno yang menciptakan seni batu di Peru mungkin menggunakan zat halusinogen saat mengukir. Seni tersebut menggambarkan sosok penari, yang diyakini memiliki makna ritualistik. Tim arkeolog dan antropolog yang melakukan penelitian ini berhipotesis bahwa halusinogen memungkinkan seniman kuno mencapai keadaan pikiran yang lebih dalam, yang mungkin terhubung dengan dimensi spiritual atau agama mereka.
Penemuan ini berasal dari situs arkeologi terpencil di Peru, di mana seni batu yang dipahat sekitar 3.500 tahun lalu ditemukan. Seni tersebut menampilkan sosok manusia dalam gerakan tari, dan studi ini menunjukkan adanya hubungan kuat antara seni dan penggunaan zat psikoaktif. Para peneliti menganalisis residu tanaman yang ditemukan di sekitar situs tersebut dan menemukan bukti bahwa seniman mungkin telah mengonsumsi benih dari tanaman yang dikenal memiliki efek halusinogen.
Dalam wawancarad dengan seorang arkeolog yang terlibat dalam studi ini, menjelaskan bahwa masyarakat kuno sering kali menggunakan tanaman yang memiliki efek psikoaktif dalam upacara spiritual mereka. “Seni batu ini tampaknya bukan hanya sekedar ekspresi artistik, tetapi juga bagian dari ritual yang melibatkan penggunaan zat halusinogen untuk mendekatkan diri dengan dewa atau roh leluhur,” katanya.
Seni batu tersebut juga terletak di daerah yang sulit dijangkau, menunjukkan bahwa seniman kuno melakukan perjalanan yang cukup jauh untuk mencapai tempat sakral ini. Ini semakin memperkuat teori bahwa seni tersebut memiliki tujuan spiritual. Dalam konteks yang lebih luas, temuan ini menambahkan bukti bahwa penggunaan zat psikoaktif adalah bagian penting dari budaya kuno di berbagai belahan dunia, tidak hanya di Peru.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan