RADARPAPUA - Penelitian terbaru yang dipimpin oleh Universitas Cornell telah mengungkap ribuan tahun sejarah genetik anjing penarik kereta luncur Arktik, seperti Siberian husky dan Alaskan husky. Studi ini menunjukkan bahwa anjing-anjing ini berasal dari dua garis keturunan Arctic yang berbeda, yang lebih tua dari perkiraan sebelumnya. Temuan juga mengungkap bahwa sekitar separuh Siberian husky yang dibesarkan untuk balapan memiliki campuran DNA dengan ras Eropa.
Heather Huson, peneliti dari Cornell sekaligus mantan pembalap anjing, menjelaskan bahwa garis keturunan Arctic ini sangat penting untuk menjaga keanekaragaman genetik dan kesehatan ras anjing tersebut.
Para peneliti mengumpulkan sampel DNA dari 344 anjing, termasuk Siberian husky, Alaskan malamute, dan anjing kereta luncur lainnya. Hasilnya memperlihatkan bahwa anjing-anjing kereta luncur sudah ada di Timur Laut Siberia sejak era Pleistosen, sekitar 11.700 tahun yang lalu. Anjing-anjing ini dipilih oleh manusia untuk fungsi yang berbeda, yang membuat populasi mereka tetap terisolasi secara reproduktif.
Penemuan ini penting untuk kebijakan pengelolaan ras anjing ke depan, dengan penekanan pada menjaga keanekaragaman genetik.(aj)