RADARPAPUA - Payung berundak, atau chatra, adalah salah satu simbol ornamen tertua dan paling sakral di Thailand, sering terlihat di atas pagoda, di dalam balai penahbisan Buddha, hingga istana kerajaan. Pembuatan payung berundak ini membutuhkan waktu hingga enam bulan oleh para pengrajin terampil. Namun, dengan inovasi terbaru, teknik penggunaan laser berkekuatan tinggi kini dapat mempercepat proses produksi.
Dalam Journal of Laser Applications dari AIP Publishing, tim peneliti memperkenalkan cara membuat payung berundak tujuh tingkat menggunakan laser karbon dioksida. Teknik ini memotong waktu produksi menjadi hanya beberapa hari, sekaligus mempertahankan keindahan ornamen yang rumit.
Payung berundak telah digunakan sejak Kerajaan Dvaravati yang berkuasa di Thailand sekitar 1.400 tahun yang lalu. Jumlah tingkatan payung juga memiliki makna, dengan payung berundak lima, tujuh, atau sembilan yang digunakan untuk pangeran, putra mahkota, dan raja.
Penggunaan laser membawa banyak keuntungan, seperti potongan yang presisi dan kemampuan untuk membentuk desain rumit. Meskipun kuningan tradisional sulit dipotong dengan laser, tim peneliti menemukan alternatif menggunakan baja tahan karat yang dilapisi nitrit titanium untuk menghasilkan warna emas khas payung berundak.
Inovasi ini mengurangi waktu pembuatan dari enam bulan menjadi sekitar 113 jam. Meski sebagian besar proses sudah otomatis, seni tangan tradisional masih bisa diaplikasikan dengan mudah melalui alat-alat umum dalam proses manufaktur laser.
Dengan pendekatan ini, para peneliti berharap dapat membantu melestarikan seni dan budaya Thailand yang kaya, sekaligus membuka jalan untuk melestarikan aspek seni dan tradisi Thailand lainnya di masa mendatang.(aj)
Editor : Richard Lawongan