Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Penemuan Dasar Laut Purba: Mengungkap Rahasia Dalam Bumi

Prisilia Rumengan • Selasa, 1 Oktober 2024 | 17:48 WIB

 

Gambar Ilustrasi
Gambar Ilustrasi

RADARPAPUA - Sebuah tim ilmuwan dari University of Maryland berhasil mengungkap bukti adanya dasar laut purba yang tenggelam jauh ke dalam Bumi pada zaman dinosaurus. Penemuan ini mengubah pemahaman kita tentang struktur dalam Bumi, serta cara permukaannya berubah selama jutaan tahun. Penelitian ini berlokasi di East Pacific Rise, perbatasan lempeng tektonik yang terletak di dasar Samudera Pasifik tenggara. Temuan penting ini dipublikasikan dalam jurnal Science Advances pada 27 September 2024.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Jingchuan Wang, seorang peneliti postdoctoral di bidang geologi, menggunakan teknik pencitraan seismik yang inovatif untuk meneliti jauh ke dalam mantel Bumi—lapisan yang terletak di antara kerak dan inti Bumi. Mereka menemukan area yang tidak biasa tebal di zona transisi mantel, yang terletak pada kedalaman sekitar 410 hingga 660 kilometer di bawah permukaan Bumi. Zona ini memisahkan mantel atas dan bawah, yang dapat meluas atau menyusut tergantung pada suhu. Peneliti berpendapat bahwa dasar laut purba yang baru ditemukan ini mungkin dapat menjelaskan struktur anomali di wilayah besar yang disebut Pacific Large Low Shear Velocity Province (LLSVP), yang berada di mantel bawah.

Wang menyatakan, "Area yang menebal ini seperti sidik jari fosil dari dasar laut kuno yang tersubduksi ke dalam Bumi sekitar 250 juta tahun yang lalu. Ini memberi kita pandangan yang belum pernah ada sebelumnya tentang masa lalu Bumi."

Proses Subduksi: Bukti dari Seismik

Subduksi adalah proses ketika satu lempeng tektonik meluncur di bawah lempeng lainnya, mendaur ulang material permukaan kembali ke mantel Bumi. Proses ini sering meninggalkan jejak pergerakan berupa gunung berapi, gempa bumi, dan palung laut yang dalam. Biasanya, geolog mempelajari subduksi melalui sampel batuan dan sedimen di permukaan Bumi. Namun, tim Wang bekerja sama dengan Profesor Geologi Vedran Lekic dan Profesor Nicholas Schmerr untuk menggunakan gelombang seismik sebagai alat untuk memetakan bagian dalam Bumi. Dengan mengamati bagaimana gelombang seismik bergerak melalui lapisan-lapisan berbeda di Bumi, mereka dapat menciptakan pemetaan rinci dari struktur-struktur yang tersembunyi di dalam mantel.

Wang menjelaskan, "Pencitraan seismik bisa dibandingkan dengan CT scan. Ini memberi kami pandangan melintang dari bagian dalam planet kita."

Kecepatan Gerakan Material Lebih Lambat dari Perkiraan

Temuan ini mengejutkan tim peneliti, karena material di dalam Bumi bergerak lebih lambat dari yang diperkirakan. Wang percaya bahwa ketebalan yang tidak biasa di zona transisi mantel ini menunjukkan adanya material yang lebih dingin, yang mungkin menyebabkan beberapa slab dasar laut terjebak setengah jalan saat mereka tenggelam ke dalam mantel.

"Kami menemukan bahwa di wilayah ini, material tenggelam sekitar setengah dari kecepatan yang kami perkirakan. Ini menunjukkan bahwa zona transisi mantel dapat berfungsi sebagai penghalang, memperlambat pergerakan material melalui Bumi," kata Wang. Penemuan ini membuka pertanyaan baru tentang bagaimana struktur dalam Bumi mempengaruhi apa yang kita lihat di permukaan dalam skala waktu dan jarak yang sangat luas.

Masa Depan Penelitian: Pemetaan yang Lebih Komprehensif

Ke depannya, tim ini berencana untuk memperluas penelitian mereka ke wilayah lain di Samudera Pasifik dan sekitarnya. Wang berharap dapat menciptakan peta yang lebih lengkap dari zona subduksi kuno dan proses upwelling, yaitu proses geologi ketika material yang tersubduksi memanas dan kembali naik ke permukaan. Dengan data seismik dari penelitian ini, para ilmuwan dapat memperbaiki model tentang bagaimana lempeng tektonik telah bergerak sepanjang sejarah Bumi.

"Ini baru permulaan," kata Wang. "Kami yakin masih banyak struktur kuno lainnya yang menunggu untuk ditemukan di bagian dalam Bumi. Masing-masing dari mereka berpotensi mengungkap wawasan baru tentang masa lalu kompleks planet kita—dan bahkan mungkin membawa pemahaman yang lebih baik tentang planet-planet lain di luar sana."(aj)

Editor : Prisilia Rumengan
#seismik #Bumi #penemuan #tektonik #purba #geologi