Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Mengungkap Rahasia Seppuku: Ritual Kematian Samurai yang Diabadikan dalam Teks Kuno

Richard Lawongan • Kamis, 3 Oktober 2024 | 07:49 WIB
Foto tahun 1860 ini menunjukkan seorang samurai dengan pedang terangkat. Empat teks yang baru diterjemahkan menjelaskan bagaimana samurai melakukan ritual kematian Seppuku.
Foto tahun 1860 ini menunjukkan seorang samurai dengan pedang terangkat. Empat teks yang baru diterjemahkan menjelaskan bagaimana samurai melakukan ritual kematian Seppuku.

RADARPAPUA - Empat teks kuno tentang Seppuku, ritual kematian samurai yang dikenal dengan proses penyembelihan diri, baru saja diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk pertama kalinya. Meskipun dalam imajinasi populer samurai sering digambarkan menikam diri mereka di perut, fakta menunjukkan bahwa hal ini jarang terjadi, terutama selama periode Edo (1603–1868).

Teks pertama dari empat terjemahan ini, berjudul The Inner Secrets of Seppuku, ditulis pada abad ke-17 oleh Mizushima Yukinari, seorang samurai yang hidup di bawah pemerintahan shogun. Pada masa itu, shogun memegang kekuasaan politik nyata, meskipun secara teknis kaisar masih menjadi penguasa Jepang. Dalam teks ini, Yukinari menyampaikan ajaran rahasia tentang Seppuku yang secara tradisional hanya diajarkan secara lisan, namun ia menuliskannya untuk memastikan agar para samurai dapat mempersiapkan diri.

Ritual Kematian dan Peran 'Kaishaku'
Proses Seppuku sering kali melibatkan seorang "kaishaku" atau asisten, yang bertanggung jawab untuk memenggal kepala samurai yang melakukan ritual. Eric Shahan, penerjemah teks ini, menjelaskan bahwa kaishaku memiliki peran penting dalam memastikan proses eksekusi berjalan dengan sempurna, karena kesalahan dalam memenggal kepala dapat membawa rasa malu yang mendalam.

Salah satu teks, Secret Traditions of Seppuku yang ditulis oleh Kudo Yukihiro pada tahun 1840, menjelaskan bahwa perhatian utama dalam ritual ini adalah pengamatan gerakan mata dan kaki samurai yang akan mati. Jika kaishaku gagal memperhatikan ini, apalagi jika terlibat emosional dengan orang yang dieksekusi, itu dianggap sebagai bukti hilangnya martabat samurai dan akan menyebabkan aib seumur hidup.

Varian Ritual Berdasarkan Pangkat
Ritual Seppuku sangat bergantung pada pangkat samurai yang dieksekusi. Samurai berpangkat tinggi, seperti bangsawan atau lords, sering kali menerima perlakuan istimewa, termasuk kebebasan memilih cara ritual dijalankan. Salah satu contoh terkenal adalah Oda Nobunaga, seorang daimyo terkenal yang memilih Seppuku pada tahun 1582 setelah dikhianati oleh pengikutnya, Akechi Mitsuhide. Meskipun demikian, dalam situasi daruratnya, kemungkinan besar Nobunaga tidak mendapatkan ritual yang sempurna.

Selain itu, samurai dengan pangkat rendah yang dinyatakan bersalah atas kejahatan berat bisa diperlakukan lebih kasar. Mereka sering diikat dan dipenggal tanpa upacara, dengan kepala mereka dibuang ke lubang tanpa penghormatan.

Transformasi Seppuku di Era Edo
Pada masa Edo, Jepang berada dalam periode damai, dan keterampilan menggunakan pisau di antara para samurai tidak setajam di masa sebelumnya. Hal ini membuat mereka tidak selalu dapat melakukan penyembelihan diri secara sempurna, seperti yang dilakukan pada era sebelumnya, di mana Seppuku dilakukan dengan metode memotong perut membentuk simbol salib.

Penemuan dan penerjemahan teks-teks ini membuka wawasan baru tentang bagaimana ritual kematian yang terkenal ini dijalankan pada berbagai periode dan tingkatan sosial di Jepang feodal. Meskipun ritual ini terkesan brutal, ia mengungkapkan nilai-nilai kehormatan yang dipegang teguh oleh para samurai.(aj)

Editor : Richard Lawongan
#Jepang #seppuku #tradisi #budaya #Samurai #sejarah #ritual kematian