RADARPAPUA— Sebuah penelitian yang menganalisis DNA kuno dari pemakaman elit Keltik di Jerman berhasil mengungkap bahwa kekuasaan pada masyarakat Keltik awal diwariskan melalui garis keturunan ibu. Temuan ini mengejutkan para arkeolog, karena sebelumnya diasumsikan bahwa kekuasaan dalam masyarakat Keltik diwariskan melalui garis paternal atau keturunan ayah.
Penelitian ini dilakukan pada sisa-sisa kerangka yang ditemukan di beberapa situs pemakaman di Jerman, yang berusia antara abad ke-8 hingga abad ke-6 SM, masa yang dikenal sebagai Zaman Hallstatt. Analisis genetik dari tulang dan gigi menunjukkan pola keturunan matrilineal di mana kekuasaan dan posisi sosial tampaknya diteruskan dari ibu ke anak. Hal ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana masyarakat Keltik awal diorganisir.
Dr. Maïté Rivollat, peneliti utama dalam studi ini, mengatakan bahwa hasil ini mengubah cara kita memandang dinamika sosial dan politik di Eropa pada masa itu. "Kami menemukan bahwa elit Keltik di wilayah ini memiliki ikatan yang kuat dengan garis keturunan ibu, yang menunjukkan bahwa perempuan memainkan peran penting dalam meneruskan kekuasaan dan status sosial," kata Rivollat dalam wawancara.
Penemuan ini berasal dari situs-situs pemakaman mewah yang dikenal sebagai "chariot burials," di mana para pemimpin elit Keltik dimakamkan bersama kereta perang dan benda-benda mewah lainnya. Analisis DNA dari situs-situs ini memberikan bukti yang kuat tentang bagaimana kekuasaan dan kekayaan diwariskan.
Selain itu, studi ini juga menyingkap hubungan keluarga antara para individu yang dimakamkan di pemakaman yang sama, memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang struktur keluarga pada zaman tersebut. Penemuan ini menunjukkan bahwa masyarakat Keltik awal memiliki sistem matrilineal yang lebih kompleks dari yang diperkirakan sebelumnya, di mana keturunan ibu lebih berperan penting dalam mewariskan kekuasaan dibandingkan dengan ayah.
Studi ini juga menggarisbawahi betapa pentingnya DNA kuno dalam membantu kita memahami sejarah dan dinamika sosial masyarakat purba. Melalui teknologi ini, kita dapat mengetahui lebih banyak tentang kehidupan dan organisasi politik masyarakat Keltik awal, yang sebelumnya tidak dapat dijelaskan hanya melalui temuan artefak.
Penelitian lebih lanjut akan diperlukan untuk memahami seberapa umum pola matrilineal ini di seluruh masyarakat Keltik pada masa itu. Namun, penemuan ini sudah mulai mengubah cara para arkeolog dan sejarawan melihat bagaimana kekuasaan diwariskan di Eropa Kuno, khususnya di wilayah yang didominasi oleh budaya Keltik.
Dengan adanya penelitian ini, kita dapat melihat bahwa perempuan di masa Keltik mungkin memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dalam aspek politik dan sosial daripada yang sebelumnya diakui.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan