RADARPAPUA- Hindsight memang sering dianggap 20/20, tetapi teori spesiasi ekologis—yang berpendapat bahwa spesies baru muncul sebagai respons terhadap perubahan lingkungan—selalu sulit dibuktikan secara eksperimen. Namun, dalam penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal Science, para biolog dari University of Massachusetts Amherst berhasil mengungkap kunci hubungan antara ekologi dan spesiasi pada burung finch Darwin yang terkenal di Kepulauan Galápagos, Ekuador.
Burung-burung finch ini telah lama menjadi sorotan karena perubahan bentuk paruh mereka yang beradaptasi dengan lingkungan. Perubahan ini tak hanya mempengaruhi cara mereka makan, tetapi juga mempengaruhi cara burung-burung tersebut berkicau. Hingga saat ini, belum ada bukti eksperimen yang secara langsung menunjukkan bahwa perubahan tersebut memicu terbentuknya spesies baru.
Jeffrey Podos, profesor biologi di UMass Amherst, adalah pemimpin dalam penelitian ini. Sejak tahun 2001, Podos telah menunjukkan bahwa perubahan bentuk paruh burung finch Darwin berpengaruh pada lagu yang mereka nyanyikan. Hipotesisnya bahwa perubahan kicauan terkait evolusi paruh dapat memicu spesiasi ekologis akhirnya terbukti dalam studi ini.
Dengan menggunakan simulasi, tim peneliti berhasil merekayasa panggilan "calon burung finch masa depan". Mereka memprediksi bagaimana lagu burung-burung ini berubah seiring dengan semakin tebalnya paruh akibat kekeringan berturut-turut. Semakin tebal paruh, semakin lambat dan terbatas kicauan mereka.
Ketika tim memutar rekaman panggilan burung finch masa depan kepada populasi burung finch saat ini, mereka menemukan bahwa setelah enam kali peristiwa kekeringan, kicauan tersebut berubah begitu drastis sehingga burung finch hampir tidak merespons lagi. Ini menunjukkan bahwa perubahan lingkungan dapat menciptakan spesies baru dalam beberapa siklus kekeringan.
Penelitian ini membuktikan bahwa spesiasi ekologis, yang sebelumnya hanya bersifat teoritis, benar-benar dapat terjadi. Perubahan paruh dan kicauan burung finch Darwin menjadi kunci utama dalam memisahkan spesies mereka seiring waktu.
Penemuan ini didukung oleh Charles Darwin Research Station, Galápagos National Park Service, dan National Science Foundation Amerika Serikat.(aj)
Editor : Prisilia Rumengan