RADARPAPUA - Sebuah kuburan berusia 2.800 tahun ditemukan di Siberia. Kuburan ini berisi sisa-sisa tubuh seorang bangsawan yang dikubur bersama seorang manusia dan 18 kuda yang dikorbankan. Menurut penelitian baru, kuburan ini diduga berasal dari budaya yang mirip dengan suku Scythia, yang terkenal misterius.
Kuburan besar ini disebut kurgan dan ditemukan di Tuva, daerah di Siberia selatan. Kuburan ini berasal dari masa peralihan Zaman Perunggu ke Zaman Besi. Penemuan ini menjadi salah satu bukti paling awal yang menunjukkan cara penguburan ala suku Scythia.
Saat menggali kuburan, para ahli menemukan peralatan berkuda dan benda-benda hiasan yang terbuat dari gambar hewan. Ini menunjukkan bahwa budaya bangsawan ini mirip dengan budaya suku Scythia, yang tinggal jauh di barat Siberia. Beberapa kerangka kuda yang ditemukan masih memiliki alat-alat logam di mulut mereka, dan ada sisa-sisa seorang wanita, yang mungkin dikorbankan.
Meskipun suku Scythia terkenal dengan budaya mereka, seperti memelihara kuda, membuat seni bertema hewan, dan ritual pengorbanan, mereka tidak meninggalkan catatan tertulis. Sebagian besar informasi tentang mereka berasal dari catatan orang lain, seperti seorang sejarawan Yunani kuno bernama Herodotus, yang hidup pada abad ke-5 SM.
Herodotus menulis bahwa suku Scythia sering mengorbankan kuda dan pelayan untuk menghormati kematian raja mereka. Setelah dibunuh, kuda-kuda akan diisi dan dipasang di sekitar kuburan bersama para korban manusia, seolah-olah mereka sedang berjalan.
Arkeolog yang memimpin penelitian ini, Gino Caspari, mengatakan bahwa asal-usul suku Scythia masih menjadi misteri, tetapi penggalian ini memberikan petunjuk awal tentang budaya unik mereka yang tersebar di stepa Eurasia.
Para ahli menggunakan teknik penanggalan radiokarbon untuk menentukan usia kuburan ini, yaitu dari akhir abad ke-9 SM, menjadikannya salah satu kuburan tertua yang menunjukkan praktik pemakaman ala suku Scythia. Penemuan ini mungkin menandai awal tradisi penguburan yang berlangsung berabad-abad lamanya. (*)
Editor : Richard Lawongan