RADARPAPUA - Manusia ternyata mampu bertahan hidup selama Zaman Es terakhir di Eropa Tengah, mirip seperti serigala dan beruang, menurut studi terbaru kami. Temuan ini menantang teori lama yang menyatakan bahwa manusia modern pergi ke Eropa bagian selatan saat suhu sangat dingin, dan baru kembali saat suhu global naik.
Studi sebelumnya menunjukkan bahwa banyak hewan dan tumbuhan berpindah tempat seiring perubahan iklim. Tapi, penelitian kami adalah yang pertama yang menggunakan data genetik untuk membuktikan bahwa sebagian manusia tetap tinggal di Eropa Tengah, meskipun iklimnya sangat dingin dan mereka berasal dari Afrika yang jauh lebih hangat.
Pada masa itu, sebagian besar Eropa tidak tertutup es, meski tetap sangat dingin seperti Alaska atau Siberia saat ini.
Tim kami, yang dipimpin oleh Oxala García-Rodríguez dari Bournemouth University, meneliti sejarah genetik 23 mamalia umum di Eropa, termasuk manusia, tupai, landak, rusa, babi hutan, dan beruang coklat.
Kami menemukan bahwa hewan-hewan ini bertahan di tempat-tempat yang disebut "refugia," yaitu daerah yang tetap hangat atau mudah untuk menemukan makanan selama Zaman Es. Namun, ada juga hewan seperti beruang coklat dan serigala yang tersebar luas di seluruh Eropa dan tidak hanya bertahan di satu tempat tertentu.
Yang mengejutkan, manusia juga termasuk dalam kelompok ini. Meski manusia modern berasal dari Afrika yang hangat, mereka mampu bertahan di iklim dingin Zaman Es, bahkan saat hewan lain berpindah ke tempat yang lebih hangat.
Mengapa manusia bisa bertahan di tempat yang begitu dingin belum jelas. Mungkin karena mereka bisa makan berbagai jenis makanan atau karena mereka sudah punya teknologi seperti pakaian, tempat tinggal, dan api untuk bertahan.
Temuan ini membuat para ilmuwan berpikir ulang tentang perubahan iklim dan penyebaran manusia. Mungkin ada beberapa tempat yang bisa dihuni lebih lama dari yang diperkirakan saat iklim terus berubah. (*)
Editor : Richard Lawongan