RADARPAPUA - Para arkeolog sedang mempelajari sebuah desa dari Zaman Perunggu yang dibangun di atas tiang-tiang kayu untuk memahami bagaimana orang-orang zaman itu hidup.
Desa kuno ini dikenal sebagai "Pompeii-nya Inggris" dan ditemukan di daerah rawa di timur Inggris, bernama Must Farm, pada tahun 2015-2016. Desa ini dibangun sekitar tahun 850 SM dan memiliki rumah-rumah kayu besar yang dibangun di atas tiang. Sayangnya, sekitar 3.000 tahun lalu, desa ini terbakar habis dan ditinggalkan oleh penduduknya.
Meskipun desa ini hancur oleh api, banyak bagian dari desa yang masih terawetkan, mirip dengan kota Pompeii di Italia yang terkena letusan gunung berapi. Hal ini memungkinkan para ilmuwan untuk mempelajari lebih banyak tentang kehidupan penduduk desa zaman dahulu.
Penelitian menunjukkan bahwa rumah-rumah di desa ini dirancang dengan sangat baik untuk menghadapi kondisi lingkungan yang semakin tergenang air. Para penduduknya adalah pembangun rumah yang hebat.
Baca Juga: Penemuan Kamar Pemakaman Prasejarah Berusia 2.600 Tahun di Jerman: Jejak Bangsawan Celtic
Arkeolog juga menemukan berbagai benda peninggalan seperti tombak panjang, potongan kain, mangkuk yang berisi sisa bubur gandum yang dicampur lemak hewan, serta tulang binatang. Bahkan, mereka menemukan kalung dengan manik-manik yang berasal dari Denmark dan Iran, menunjukkan bahwa mereka punya hubungan dengan daerah jauh.
Yang menarik, penduduk desa zaman itu menyimpan sisa-sisa lemak daging untuk dijadikan bumbu bubur mereka. Analisis kimia dari mangkuk menunjukkan adanya jejak madu dan daging hewan seperti rusa, yang menunjukkan bahwa mereka membuat makanan dengan rasa manis seperti "venison berlapis madu."
Para arkeolog juga menemukan tengkorak manusia yang halus, kemungkinan sebagai kenang-kenangan dari seseorang yang telah meninggal.
Penyebab kebakaran desa ini mungkin tidak akan pernah diketahui. Ada teori bahwa desa ini dibakar oleh para pejuang saat terjadi serangan. Tapi, ada juga kemungkinan bahwa penduduknya membangun desa baru di tempat lain.
Penemuan ini membuat para ilmuwan berpikir mungkin masih ada banyak desa lain seperti ini yang terkubur di bawah tanah dan menunggu untuk ditemukan. (*)
Editor : Richard Lawongan