RADARPAPUA - Sekitar 201,6 juta tahun yang lalu, bumi mengalami salah satu dari lima kepunahan massal besar di mana tiga perempat dari semua spesies tiba-tiba menghilang. Selama masa ini, Pangaea, benua raksasa yang mencakup hampir seluruh daratan di bumi, mulai terpecah akibat letusan vulkanik masif. Letusan tersebut berlangsung selama sekitar 600.000 tahun, memisahkan daratan yang kini dikenal sebagai Amerika, Eropa, dan Afrika Utara. Periode ini mengakhiri era Triasik dan memulai era Jurassic, masa di mana dinosaurus berkembang dan mendominasi.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences mengungkap bahwa faktor utama yang menyebabkan kepunahan ini bukanlah suhu yang meningkat drastis, melainkan dingin membekukan yang terjadi secara tiba-tiba. Dennis Kent, penulis utama studi dari Columbia Climate School, menyatakan bahwa "partikel sulfat dari letusan tersebut memantulkan sinar matahari, menyebabkan penurunan suhu ekstrem." Efek pendinginan ini terjadi hampir seketika dan membawa perubahan iklim yang mengancam kehidupan, berbeda dengan efek karbondioksida yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menghangatkan bumi.
Kent bersama timnya meneliti deposit Central Atlantic Magmatic Province (CAMP), lapisan lava yang terbentuk akibat letusan di berbagai wilayah, termasuk pegunungan Maroko, Bay of Fundy di Nova Scotia, dan Cekungan Newark di New Jersey. Mereka menemukan lima letusan awal CAMP terjadi dalam kurun waktu kurang dari 40.000 tahun, yang masing-masing berlangsung kurang dari 100 tahun. Setiap letusan melepaskan partikel sulfat ke atmosfer dalam jumlah besar sehingga cahaya matahari terhalang dan suhu menurun drastis, menyebabkan apa yang mereka sebut sebagai "musim dingin vulkanik."
Efek ini mirip dengan letusan gunung Laki di Islandia pada 1783 yang menyebabkan gagal panen massal. Namun, letusan awal CAMP ratusan kali lebih besar, membawa dampak lebih parah. Kent mengatakan, "karbondioksida dan sulfat bekerja secara berbeda dalam skala waktu: karbondioksida membangun panas perlahan, sementara sulfat langsung mendinginkan iklim."
Sedimen di bawah lapisan lava CAMP menunjukkan fosil-fosil era Triasik seperti reptil besar semiakuatik, amfibi besar, dan tanaman tropis. Semua makhluk ini musnah setelah letusan dimulai, sementara dinosaurus kecil berbulu yang telah ada selama puluhan juta tahun sebelum ini, bersama dengan kura-kura dan mamalia kecil lainnya, mampu bertahan. Ukuran mereka yang kecil dan kemampuan bertahan di liang tanah mungkin menjadi faktor penyelamat.
Penelitian ini menunjukkan bahwa kepunahan massal akhir Triasik bukan hanya sekedar kejadian alami dalam periode waktu panjang. Sebaliknya, peristiwa ini adalah rangkaian konsentrasi letusan vulkanik yang ekstrem dan berjangka pendek, yang secara drastis mengubah lingkungan bumi dan menciptakan iklim yang tak lagi dapat ditoleransi oleh sebagian besar kehidupan.(aj)
Editor : Prisilia Rumengan