Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Menguak Sejarah Genetik Aurochs: Leluhur Sapi yang Legendaris di Dunia Purba

Prisilia Rumengan • Kamis, 31 Oktober 2024 | 10:30 WIB

 

Tengkorak auroch, dari St Petersburg.
Tengkorak auroch, dari St Petersburg.

RADARPAPUA - Tim genetikawan dari Trinity College Dublin, bekerja sama dengan para peneliti internasional, berhasil mengungkap misteri sejarah genetika aurochs, nenek moyang sapi modern. Melalui analisis 38 genom dari fosil tulang yang tersebar hingga 50 ribu tahun lalu, dari Siberia hingga Inggris, penelitian ini memberikan wawasan baru tentang kehidupan dan perjalanan evolusi hewan ikonik ini, yang sering menjadi subjek seni manusia purba.

Aurochs: Nenek Moyang Sapi yang Legendaris

Aurochs adalah jenis banteng liar yang hidup di Eropa, Asia, dan Afrika selama ratusan ribu tahun. Gambar-gambar aurochs menghiasi dinding-dinding gua sebagai bukti penting bagi manusia purba. Domestikasi aurochs di era Neolitikum untuk dijadikan sapi menjadi tonggak penting yang memberi umat manusia sumber daya seperti daging, susu, dan tenaga untuk bertani. Saat ini, keturunan mereka, sapi modern, bahkan menyumbang sepertiga dari biomassa mamalia di dunia.

Dalam studi yang dipublikasikan di Nature Communications, Dr. Conor Rossi, penulis utama, mengungkapkan bahwa meskipun aurochs telah punah sekitar 400 tahun yang lalu, analisis DNA kuno memungkinkan para ilmuwan melacak keragaman genetik yang dulu pernah berkembang di alam liar. Aurochs pertama kali muncul sekitar 650.000 tahun lalu di Eropa, pada masa yang bertepatan dengan kedatangan manusia purba.

Namun, jejak genetik menunjukkan adanya pergantian populasi sekitar 100.000 tahun yang lalu, di mana aurochs dari Asia Selatan bermigrasi ke Eropa, menggantikan populasi sebelumnya. Menariknya, sisa-sisa nenek moyang awal ini masih terlihat pada populasi aurochs di Eropa Barat.

Perubahan iklim juga tercermin dalam genom aurochs. Menurut Dr. Mikkel Sinding dari Universitas Copenhagen, sekitar 100.000 tahun yang lalu, genom aurochs Eropa dan Asia Utara mulai berpisah akibat perubahan iklim yang ekstrem di awal zaman es. Selama periode glasial ini, populasi aurochs di Eropa mengalami penurunan jumlah dan keragaman genetik, dengan kelompok yang tersisa berpindah ke wilayah selatan sebagai tempat perlindungan sementara. Saat iklim mulai menghangat kembali, mereka kembali menyebar ke seluruh benua.

Domestikasi dan Penyempitan Genetik Sapi

Proses domestikasi aurochs menjadi sapi sekitar 10.000 tahun yang lalu dimulai di wilayah utara Fertile Crescent. Uniknya, hanya sebagian kecil garis keturunan maternal yang bertahan dalam proses ini, yang terlihat dari analisis DNA mitokondria (diturunkan dari ibu ke anak). Menurut Profesor Dan Bradley, yang memimpin penelitian ini, "Meskipun Caesar melebih-lebihkan dengan membandingkannya dengan gajah, banteng liar ini sangat berbahaya, dan penangkaran pertama tampaknya melibatkan sangat sedikit hewan."

Namun, saat sapi hasil domestikasi ini menyebar ke berbagai belahan dunia bersama para penggembalanya, terjadi perkawinan silang dengan aurochs liar, yang memperkaya basis genetik sapi modern. Jejak dari empat garis keturunan aurochs yang terpisah sebelum zaman es masih dapat ditemukan dalam gen sapi-sapi modern saat ini.

Penelitian ini menunjukkan betapa besar pengaruh domestikasi terhadap keberagaman genetik dan evolusi hewan, serta bagaimana pengaruh iklim memainkan peran dalam sejarah panjang kehidupan aurochs. Penemuan ini bukan hanya membuka tabir misteri tentang nenek moyang sapi, tetapi juga memberi kita gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana domestikasi di masa lalu membentuk keberagaman spesies yang kita kenal sekarang(aj)

Editor : Prisilia Rumengan
#SapiPurba #domestikasi #prasejarah #EvolusiGenetika #Aurochs