Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Misteri Penguburan Manusia Purba di Levant: Mengungkap Perbedaan Homo Sapiens dan Neanderthal

Richard Lawongan • Kamis, 31 Oktober 2024 | 10:43 WIB

 

Contoh penguburan Homo sapiens awal termasuk penguburan ganda dari Gua Qafzeh (#9-10) [A], penguburan dewasa dengan rahang babi hutan (hijau) di Skhul 5 [B], dan penguburan remaja dengan tanduk rusa.
Contoh penguburan Homo sapiens awal termasuk penguburan ganda dari Gua Qafzeh (#9-10) [A], penguburan dewasa dengan rahang babi hutan (hijau) di Skhul 5 [B], dan penguburan remaja dengan tanduk rusa.

RADARPAPUA - Penelitian terbaru yang diterbitkan di L'Anthropologie oleh Profesor Ella Been dari Ono Academic College dan Dr. Omry Barzilai dari Universitas Haifa mengungkap praktik penguburan Homo sapiens dan Neanderthal di kawasan Levant selama Zaman Paleolitikum Tengah. Studi ini menunjukkan bagaimana kedua spesies manusia purba ini memiliki perbedaan dalam cara menghormati jenazah mereka, terutama dalam hal lokasi penguburan, posisi tubuh, dan barang-barang kubur yang disertakan.

Pertemuan Dua Spesies di Kawasan Levant

Zaman Paleolitikum Tengah di Asia Barat adalah masa penting dalam evolusi manusia, di mana Homo sapiens dan Neanderthal hidup berdampingan. Homo sapiens memasuki kawasan ini dari Afrika antara 170.000 hingga 90.000 tahun lalu dan kembali sekitar 55.000 tahun lalu. Sementara itu, Neanderthal datang dari Eropa sekitar 120.000 hingga 55.000 tahun lalu.

Kedua spesies ini mulai melakukan penguburan bagi kerabat yang meninggal pada masa ini, sebuah praktik yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Temuan ini menunjukkan bahwa praktik penguburan mungkin pertama kali muncul di kawasan Levant sebelum menyebar ke wilayah lain atau bahkan mungkin diciptakan secara mandiri oleh budaya lainnya.

Profesor Been dan Dr. Barzilai memulai studi mereka dengan mengamati sejumlah situs arkeologi yang mengandung kerangka Homo sapiens dan Neanderthal, termasuk situs-situs Neanderthal di Gua Teshik Tash, Shanidar, Dederiyeh, Amud, Tabun, dan Kebara, serta situs Homo sapiens di Gua Skhul dan Qafzeh. Dari total 37 penguburan yang dikonfirmasi, ditemukan bahwa baik Homo sapiens maupun Neanderthal mengubur jenazah tanpa memandang jenis kelamin atau usia.

Namun, beberapa perbedaan mencolok muncul. Penguburan Homo sapiens umumnya ditemukan di pintu gua atau tempat perlindungan batu, dengan posisi tubuh terlipat mirip posisi janin. Sebaliknya, Neanderthal kerap mengubur kerabat mereka di dalam gua, dengan posisi tubuh yang lebih bervariasi—baik terlipat, terlentang, atau sebagian terlipat.

Barang-barang Kubur dan Tradisi yang Berbeda

Penelitian ini juga menemukan bahwa Neanderthal lebih sering menyertakan batu di sekitar jenazah mereka, termasuk meletakkan tubuh di antara dua batu besar atau menggunakan batu kapur sebagai “bantal” di bawah kepala jenazah. Sementara itu, Homo sapiens kadang menyertakan benda-benda khas seperti oker dan kerang laut di sekitar kuburan mereka—tradisi yang tidak ditemukan pada penguburan Neanderthal.

Kedua spesies juga kadang menyertakan sisa-sisa hewan sebagai barang kubur, seperti tanduk kambing, tanduk rusa, atau bagian rahang hewan. Namun, beberapa perbedaan tetap terlihat, membuktikan bahwa Homo sapiens dan Neanderthal memiliki ciri budaya material yang berbeda di Levant.

Menariknya, studi ini mencatat peningkatan jumlah penguburan yang mendadak di kawasan Levant pada Zaman Paleolitikum Tengah, berbeda dengan daerah lain seperti Afrika dan Eropa. Kepadatan populasi yang meningkat dapat menjadi salah satu penjelasan, karena meningkatnya kelembaban di Gurun Sahara-Arab saat itu membuat kawasan Levant lebih menarik sebagai tempat tinggal. Selain itu, mencairnya gletser di Pegunungan Taurus dan Balkan menciptakan jalur baru bagi Neanderthal untuk memasuki kawasan tersebut, mempertemukan mereka dengan Homo sapiens.

Mengapa Praktik Penguburan Berhenti?

Fenomena menarik lain yang ditemukan adalah bahwa praktik penguburan di kawasan Levant mendadak berhenti sekitar 50.000 tahun lalu, bersamaan dengan punahnya Neanderthal. Praktik ini tidak dilanjutkan hingga sekitar 15.000 tahun lalu pada Zaman Paleolitikum Akhir, ketika budaya Natufian muncul sebagai masyarakat pemburu-pengumpul semi-sedentari.

Penelitian oleh Profesor Been dan Dr. Barzilai memberikan wawasan mendalam mengenai evolusi budaya antara Homo sapiens dan Neanderthal. Seperti yang dijelaskan oleh Profesor Been, “Penguburan adalah bagian penting dari budaya, dan kami tahu bahwa baik Neanderthal maupun Homo sapiens memiliki budaya yang berkembang. Ini membingungkan mengapa kedua populasi ini mendadak mulai mengubur jenazah mereka.”

Penelitian lanjutan sedang dilakukan oleh Profesor Been, termasuk pengkajian kerangka bayi Neanderthal dari Gua Amud di Israel. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih mendalam tentang kebiasaan penguburan manusia purba serta evolusi budaya di antara dua spesies tersebut.(aj) 

Editor : Richard Lawongan
#homo sapiens #penguburan #paleolitikum #Neanderthal #manusia purba #Praktik