Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Kisah Patung Ramesses II di British Museum yang Mengungkap Sejarah Mesir, Peradaban, dan Penyair Ozymandias

Prisilia Rumengan • Selasa, 5 November 2024 | 08:00 WIB
Ilustrasi (AI Generator)
Ilustrasi (AI Generator)

RADARPAPUA- Dalam arkeologi, patung "The Younger Memnon" yang kini berdiri megah di British Museum London menyimpan kisah menakjubkan tentang masa kejayaan Firaun Ramesses II, salah satu raja paling berpengaruh dalam sejarah Mesir Kuno.

Ditemukan di Thebes, Mesir, patung ini merupakan sisa kepala dan badan dengan tinggi 2,7 meter, yang diperkirakan dibuat pada awal abad ke-13 SM, atau sekitar 3.300 tahun yang lalu.

Ramesses II, juga dikenal sebagai Ramesses Agung, memerintah dari tahun 1279 hingga 1213 SM, sebuah era yang disebut Zaman Kejayaan Kerajaan Baru Mesir (sekitar 1550 hingga 1070 SM).

Era ini menandai pemulihan besar dalam tradisi dan pengaruh Mesir setelah periode pendudukan asing. Kepemimpinan Ramesses sangat erat kaitannya dengan proyek-proyek monumental, seperti perluasan Kuil Karnak, pembangunan kota-kota besar, dan pengukiran berbagai patung raksasa dirinya untuk menunjukkan kekuatan kerajaan.

Namun, patung "The Younger Memnon" menyimpan sejarah yang lebih dari sekadar keindahan artistik. Patung ini diwarnai oleh lapisan merah yang masih terlihat samar hingga kini, mengisyaratkan bahwa pada masanya, patung granit tersebut mungkin dicat untuk memperkuat kesan megahnya.

Ramesses dikenal sebagai seorang pemimpin militer yang berhasil merebut kembali pengaruh Mesir, termasuk dalam pertempuran di Kadesh melawan bangsa Het sekitar tahun 1275 SM.

Patung ini sejatinya merupakan salah satu dari dua patung yang berdiri di depan kuil besar yang didedikasikan Ramesses untuk dirinya sendiri di Thebes, dekat Luxor modern.

Pengaruhnya begitu besar sehingga bahkan seribu tahun setelah kematiannya, para pendeta dan rakyat masih menghormatinya dengan mempersembahkan kepala domba mumi di kuil sebagai tanda penghormatan.

Nama "Memnon" yang tersemat pada patung ini berasal dari kesalahpahaman di antara para ahli Mesir pada abad ke-19 yang mengira patung tersebut adalah representasi raja mitologi Yunani bernama Memnon.

Namun, sebenarnya patung ini menunjukkan Amenhotep III, salah satu firaun Mesir lainnya. Untuk membedakannya dari patung serupa, arkeolog menambahkan istilah "Younger" karena ukurannya yang lebih kecil.

Uniknya, "The Younger Memnon" turut memengaruhi literatur Inggris. Penyair Inggris Percy Bysshe Shelley konon terinspirasi dari patung ini untuk menciptakan puisi terkenalnya, "Ozymandias," yang merujuk pada nama Yunani bagi Ramesses II.

Meskipun Shelley tidak pernah melihat patung tersebut secara langsung sebelum British Museum membelinya pada tahun 1821, puisi ini merefleksikan semangat eksplorasi Mesir Kuno yang saat itu merambah dunia Barat dan memicu fenomena yang dikenal sebagai Egyptomania.

Kini, patung "The Younger Memnon" berdiri sebagai simbol abadi sejarah dan budaya Mesir Kuno, serta pengaruhnya yang meluas di luar batas waktu dan ruang.

Bagi banyak pengunjung British Museum, patung ini adalah pengingat kuat akan masa keemasan Mesir dan bagaimana warisan Ramesses II masih hidup hingga saat ini.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#Ramses Agung #arkeolog #patung #Younger Memnon #Mesir kuno #sejarah #Ramses II