RADARPAPUA - Tim arkeolog di Mesir mengungkap penemuan barak militer berusia 3.200 tahun yang memberikan gambaran mendalam tentang strategi militer Mesir Kuno di masa pemerintahan Ramses II.
Temuan ini mencakup berbagai artefak penting, mulai dari senjata hingga sisa-sisa hewan, yang membantu ahli arkeologi memahami lebih lanjut tentang kehidupan militer dan peran Mesir dalam menjaga perbatasannya.
Barak ini ditemukan di wilayah strategis Delta Nil bagian barat laut, lokasi yang berfungsi sebagai benteng pertahanan untuk menghadang ancaman dari gurun barat maupun Laut Mediterania.
Berdasarkan keterangan dari Ahmed El Kharadly, ketua tim arkeologi dari Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir, struktur bangunan ini memiliki beberapa ruangan penyimpanan untuk gandum serta oven yang digunakan untuk memanggang roti. "Kami juga menemukan sisa-sisa tulang hewan, termasuk ikan dan sapi, yang mengindikasikan penggunaan sapi sebagai sumber makanan bagi para prajurit," ungkap El Kharadly
Simbolisme sapi di Mesir Kuno sangatlah kuat. Menurut Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir, sapi merupakan lambang kekuatan, kelimpahan, dan kemakmuran, bahkan dipuja sebagai dewa.
Namun, El Kharadly menduga bahwa dalam konteks ini, sapi kemungkinan besar digunakan untuk konsumsi, seperti yang ditunjukkan oleh tulang sapi yang ditemukan di dekat silo dan oven. "Ini menunjukkan bahwa sapi-sapi tersebut mungkin diolah dan disimpan dalam silo setelah dikeringkan," tambahnya.
Selain itu, penemuan senjata berupa pedang perunggu yang bertuliskan nama Ramses II menegaskan pentingnya lokasi ini sebagai titik pertahanan yang dilengkapi peralatan tempur.
Pedang tersebut ditemukan di ruangan kecil dekat barak, di mana kemungkinan lokasi tersebut strategis untuk menghadang serangan musuh. Hal ini mengisyaratkan bahwa pedang tersebut bukan hanya sebagai hiasan atau simbol, melainkan senjata aktif untuk menghadapi infiltrasi musuh.
Dua blok batu kapur yang juga ditemukan di situs ini memuat ukiran hieroglif yang merujuk pada Ramses II, serta seorang pejabat bernama Bay.
Peter Brand, seorang profesor sejarah dari Universitas Memphis, mengatakan bahwa penemuan ini adalah bukti signifikan dari strategi pertahanan dan logistik Mesir di era Ramses II. "Penemuan senjata-senjata ini menunjukkan bahwa tempat ini sangat dipersenjatai, bahkan kemungkinan dapat memproduksi senjata di lokasi tersebut," ungkap Brand.
Anthony Spalinger, pakar sejarah kuno dari Universitas Auckland, menambahkan bahwa temuan barak ini sesuai dengan catatan sejarah mengenai ancaman dari kelompok Libya yang saat itu menjadi perhatian utama Mesir. "Garnisun ini dibangun untuk mengontrol akses masuk ke Mesir," jelasnya.
Bagi Mesir, penempatan barak di lokasi strategis adalah langkah penting untuk menjaga kestabilan wilayah dan mempertahankan kekuasaannya di daerah perbatasan.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan