RADARPAPUA - Bertahun-tahun, area pegunungan dingin dan kering di Tajikistan dan Asia Tengah dianggap terlalu keras untuk dihuni oleh manusia awal. Namun, riset terbaru dari Yossi Zaidner di Hebrew University of Jerusalem dan Sharof Kurbanov di Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Tajikistan membantah asumsi ini. Penelitian di situs Soii Havzak, lembah Sungai Zeravshan, mengungkapkan adanya peninggalan manusia yang hidup di daerah ini sejak 150.000 hingga 20.000 tahun lalu, menandakan bahwa Asia Tengah tidak benar-benar kosong selama periode dingin ekstrem.
Di situs Soii Havzak yang berbentuk seperti gua kecil alami di tebing, para arkeolog menemukan artefak batu dan tulang yang relatif terjaga, berkat kondisi kering dan dingin wilayah ini. Alat batu dan jejak api mengindikasikan bahwa situs ini dihuni oleh Neanderthal, Denisovan, bahkan Homo sapiens pada periode yang berbeda. Lokasi yang berada di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut ini diyakini cukup nyaman bagi hominin untuk bertahan dari perubahan iklim ekstrem.
Zaidner berpendapat bahwa kondisi lembah yang hijau, terjaga oleh lelehan es pegunungan, menjadikannya koridor migrasi yang relatif nyaman. Bahkan, iklim di Asia Tengah selama periode Paleolitik disebut relatif ramah, sehingga lembah Zeravshan ini mungkin telah menjadi tempat singgah bagi berbagai spesies hominin yang bergerak menuju Eurasia dan Altai.
Dengan bukti bahwa manusia awal tidak meninggalkan Asia Tengah meski iklim berubah drastis, para arkeolog melihat Zeravshan sebagai "refugium iklim" bagi hominin saat menghadapi musim es panjang. Lembah ini mungkin adalah jalur penting dalam migrasi awal manusia, melanjutkan perannya sebagai jalur perdagangan Jalur Sutra di abad pertengahan. Eksplorasi di area ini diharapkan mengungkap lebih banyak situs yang bahkan mungkin berasal dari periode lebih awal.(aj)
Editor : Richard Lawongan