RADARPAPUA - Sejak pertama kali ditemukan pada 1748, cerita tentang korban letusan Gunung Vesuvius di Pompeii telah didasarkan pada interpretasi fisik tubuh-tubuh yang terawetkan. Namun, penelitian terbaru yang melibatkan DNA kuno dari kerangka di dalam 14 dari 86 cetakan plaster korban di Pompeii mengungkap fakta yang mengguncang asumsi lama.
Berdasarkan penelitian kolaboratif antara Universitas Florence, Harvard, dan Institut Max Planck, analisis genetik memperlihatkan bahwa banyak dari dugaan awal tentang gender dan hubungan keluarga korban ternyata keliru. Misalnya, seorang dewasa yang mengenakan gelang emas dan menggendong anak, yang selama ini dianggap ibu dan anak, ternyata adalah pria dewasa yang tidak berhubungan darah dengan sang anak. Begitu pula, dua individu yang dianggap saudara atau ibu dan anak ternyata salah satunya adalah pria. Fakta ini menantang pemahaman tradisional tentang gender dan kekerabatan di Pompeii.
DNA kuno juga menunjukkan bahwa penduduk Pompeii sebagian besar adalah keturunan imigran dari Mediterania timur, mencerminkan keragaman dan sifat kosmopolitan Kekaisaran Romawi. Ini menambah wawasan baru bahwa Pompeii adalah kota yang penuh dengan percampuran budaya dan perdagangan yang intens.
Gabriel Zuchtriegel, Direktur Taman Pompeii, menekankan bahwa penelitian ini mengubah paradigma dalam memahami kehidupan kuno. Dengan analisis isotop, diagnostik, dan metode modern lainnya, Pompeii kini menjadi pusat pengembangan metode arkeologi baru. Penelitian DNA kuno ini menambah dimensi dalam memahami tidak hanya arsitektur dan kebudayaan, tapi juga hubungan sosial masyarakat Pompeii.
Penemuan ini menggambarkan pentingnya menggabungkan analisis genetik dengan data arkeologi untuk interpretasi yang lebih akurat. Penelitian di Pompeii ini tidak hanya membuka mata tentang kehidupan di masa lalu, tetapi juga menggambarkan bagaimana situs arkeologi dapat menjadi pusat inovasi ilmiah di era modern.(aj)
Editor : Prisilia Rumengan