RADARPAPUA - Para ahli di Museum Nasional Skotlandia berhasil menyusun kembali potongan baju zirah Romawi kuno berusia sekitar 1.800 tahun yang sudah pecah menjadi lebih dari 100 bagian. Hasil rekonstruksi ini akan menjadi bagian dari pameran mendatang.
Selama beberapa minggu, para ahli museum bekerja dengan sangat teliti untuk menyatukan potongan-potongan baju zirah ini, mirip seperti menyusun puzzle kuno. Baju zirah dari abad kedua ini terbuat dari kuningan dan ditemukan pada tahun 1906 di Trimontium, bekas benteng Romawi yang terletak di sebelah tenggara Edinburgh, Skotlandia.
Sejak itu, potongan-potongan zirah ini menjadi koleksi museum, dan bagian atasnya sudah dipamerkan selama 25 tahun. Sementara itu, bagian bawahnya sempat dipinjamkan ke Museum Trimontium.
Fraser Hunter, kurator utama arkeologi prasejarah dan Romawi di Museum Nasional Skotlandia, mengatakan, “Ini adalah benda yang sangat langka, dan pameran ini memberi kami kesempatan untuk menyusunnya kembali. Hasilnya sangat menakjubkan.”
Awalnya, para peneliti mengira benda ini adalah pelindung paha untuk pasukan berkuda Romawi. Namun, saat para ahli merakitnya, mereka menyadari bahwa ini sebenarnya adalah pelindung lengan yang mirip dengan yang dipakai para gladiator Romawi. Pelindung ini melindungi dari bahu hingga tangan, digunakan saat bertempur.
Richard Abdy, kurator koin Romawi di Museum Inggris, menjelaskan bahwa pelindung lengan ini biasanya dipakai oleh gladiator, tetapi ternyata juga digunakan oleh prajurit Romawi untuk melindungi lengan yang memegang pedang.
Benda kuno ini akan dipamerkan mulai 1 Februari hingga 23 Juni di Museum Inggris dalam pameran bertema "Legiun: Kehidupan di Tentara Romawi."
Hunter menambahkan, “Sekarang, setelah zirah ini direkonstruksi, kita bisa membayangkan prajurit Romawi yang pernah memakainya. Zirah ini adalah simbol perlindungan sekaligus status, karena kuningan mahal dan berkilau seperti emas di lengan pedang prajurit. Ini memberi kita gambaran nyata tentang masa penting ketika Skotlandia menjadi bagian dari wilayah Romawi.” (*)
Editor : Richard Lawongan