RADARPAPUA - Para arkeolog dari Universitas Durham, Inggris, dan Universitas Al-Qadisiyah, Irak, telah berhasil mengidentifikasi lokasi pertempuran bersejarah al-Qadisiyyah yang terjadi pada 636 atau 637 M. Menggunakan citra satelit rahasia AS dari tahun 1974 dan catatan sejarah, mereka menemukan bahwa pertempuran yang menjadi titik awal ekspansi Islam ini berlangsung sekitar 30 kilometer di selatan Kufa, Irak.
Dalam penelitian ini, William Deadman, ahli pemetaan arkeologi dari Universitas Durham, memetakan area berdasarkan jarak yang tercatat dalam literatur sejarah. Deadman terkejut saat menemukan sisa benteng dan tembok ganda yang disebutkan dalam dokumen kuno, yang mengindikasikan lokasi pertempuran tersebut. Ia menyebut penemuan ini sebagai momen sejarah penting, di mana pasukan Arab Muslim yang lebih kecil mengalahkan tentara besar Kekaisaran Sasaniyah.
Saat ini, area bekas medan pertempuran tersebut telah menjadi lahan pertanian. Banyak bagian dari tembok sepanjang 9,7 kilometer telah rusak atau digunakan sebagai batas lahan. Lokasi bekas benteng militer al-‘Udhayb juga telah dijadikan area tambang. Namun, penelitian ini membuka peluang besar untuk lebih memahami sisa-sisa masa lalu melalui survei arkeologi lebih lanjut.
Penemuan ini menghidupkan kembali peristiwa yang berdampak besar dalam sejarah dunia Islam. Pertempuran al-Qadisiyyah tidak hanya menandai runtuhnya Kekaisaran Sasaniyah, tetapi juga mendorong ekspansi wilayah Muslim ke Mesopotamia dan Persia. Kini, dengan lokasi yang telah dipetakan, tempat ini berpotensi menarik perhatian para wisatawan sejarah dan religi yang ingin mengunjungi langsung lokasi bersejarah tersebut.
Di masa depan, para peneliti berencana untuk melakukan survei arkeologi lebih lanjut. Namun, rencana ini harus ditunda akibat ketegangan di kawasan Timur Tengah.(aj)
Editor : Richard Lawongan