RADARPAPUA- Asteroid merupakan objek misterius yang kerap kali melintas di tata surya kita dan kadang kala bahkan menghantam planet, termasuk Bumi. Ancaman ini mendorong Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) untuk mengembangkan misi pertahanan yang disebut Double Asteroid Redirection Test atau DART. Tujuan utama DART adalah untuk menguji apakah mungkin mengalihkan arah asteroid berbahaya sebelum dapat menimbulkan kerusakan pada Bumi, seperti yang diyakini pernah terjadi pada zaman kepunahan dinosaurus.
Tidak semua asteroid memiliki potensi mengancam kehidupan di Bumi. Sebagian besar asteroid berukuran kecil, sementara lainnya memiliki ukuran yang cukup besar. Berdasarkan catatan NASA, asteroid terbesar di tata surya adalah Ceres, dengan diameter hampir 950 kilometer. Ceres, yang ditemukan pada 1801, tidak hanya masuk kategori asteroid tetapi juga diklasifikasikan sebagai planet katai atau dwarf planet karena bentuknya yang lebih menyerupai planet dibandingkan asteroid umumnya. Adapun asteroid terkecil yang pernah tercatat adalah asteroid 2015 TC25, dengan ukuran hanya sekitar dua meter. Para ilmuwan memperkirakan bahwa objek lebih kecil dari tiga kaki (satu meter) umumnya dianggap tidak cukup besar untuk disebut asteroid, meskipun hal ini masih menjadi perdebatan di kalangan ahli.
Asteroid diyakini terbentuk pada masa awal pembentukan tata surya ketika debu dan gas yang mengelilingi matahari mulai mendingin dan saling menggumpal menjadi benda-benda kecil yang saling bertumbukan hingga membentuk objek yang lebih besar. Sebagian dari gumpalan tersebut akhirnya membentuk planet, sementara sisa-sisa yang lebih kecil tetap menjadi asteroid, layaknya "serpihan di atas meja," seperti diungkapkan oleh Simone Marchi, seorang astronom di Southwest Research Institute di Colorado.
Hingga saat ini, sebagian besar asteroid berada dalam sabuk asteroid yang terletak antara orbit Mars dan Jupiter. Sabuk asteroid ini memiliki lebar lebih dari 225 juta kilometer, berisikan jutaan objek yang belum semuanya teridentifikasi. Dengan berbagai ukuran, dari hanya beberapa meter hingga ratusan kilometer, asteroid di sabuk ini terus dipelajari oleh para ilmuwan untuk memahami asal-usul dan potensi ancaman yang mungkin ditimbulkannya bagi Bumi.
Selain Ceres, asteroid terbesar lainnya adalah Vesta, dengan diameter mencapai 525 kilometer. Vesta tetap dikategorikan sebagai asteroid karena bentuknya yang tidak sepenuhnya bulat dan tidak memiliki atmosfer seperti Ceres. Di sisi lain, objek terkecil yang dapat dikategorikan sebagai asteroid masih menjadi perdebatan. Menurut astronom Yan Fernandez dari University of Central Florida, tidak ada batasan ukuran resmi untuk asteroid, sehingga perbedaan pendapat di antara para ilmuwan cukup umum terjadi. Benda-benda berukuran kecil yang terdeteksi dengan teleskop sering kali terbakar saat memasuki atmosfer Bumi dan berubah menjadi meteor.
Seiring waktu, asteroid juga bisa berubah ukuran. Banyak faktor seperti panas dari matahari atau tabrakan dengan objek lain yang menyebabkan asteroid kehilangan materialnya. Beberapa asteroid bahkan berputar dengan kecepatan tinggi, sehingga beberapa partikel yang ada di permukaannya terlempar ke luar angkasa. Fenomena ini membuat batas antara asteroid dan meteoroid menjadi lebih kabur, karena objek yang cukup kecil akan diklasifikasikan sebagai meteoroid, terutama jika telah memasuki atmosfer Bumi. Marchi berpendapat bahwa objek berbatu yang berada di luar angkasa tetap disebut asteroid, sementara Fernandez beranggapan bahwa jika objek tersebut bisa ditemukan dan diobservasi dengan teleskop, maka ia layak disebut asteroid.
Upaya NASA dan komunitas ilmiah dalam memahami asteroid tidak hanya membantu mencegah bencana potensial, tetapi juga memberi kita wawasan yang lebih dalam tentang asal usul tata surya dan pembentukan planet. Seperti Ceres yang terus memberikan petunjuk baru tentang bagaimana benda-benda di tata surya saling terhubung dan berinteraksi, penelitian tentang asteroid menjadi bagian tak terpisahkan dari eksplorasi ruang angkasa.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan