RADARPAPUA - Tim peneliti telah menemukan spesies katak baru berukuran mini, Limnonectes phyllofolia, di hutan hujan tropis Sulawesi, Indonesia. Meski kecil, katak ini memiliki ciri unik yang memikat, taring kecil yang menyerupai pedang, yang digunakan untuk mempertahankan wilayah tempat mereka meletakkan telur mereka. Hasil penelitian ini diterbitkan dalam jurnal PLOS One pada 20 Desember, di mana para peneliti mengungkapkan perilaku unik katak dalam menjaga telur mereka di atas daun dan bebatuan berlumut, menjadikannya berbeda dari mayoritas katak lain yang biasanya bersarang di tepi sungai.
Peneliti awalnya mendeteksi spesies ini saat menemukan telur katak yang tersebar di daun-daun pohon dan batu, sekitar satu hingga dua meter di atas permukaan air. Biasanya, katak meletakkan telurnya di tempat lembap seperti tepi sungai agar telur-telur tersebut tetap basah. Namun, katak ini memilih tempat-tempat lebih tinggi, diduga sebagai strategi menghindari predator dan kompetitor. Telur yang ditempatkan di atas membuat anak-anak katak yang menetas dapat langsung jatuh ke air, yang menjadi keuntungan bagi perkembangan mereka.
Para peneliti juga terkesan saat menyaksikan bahwa para pejantan dari spesies ini berperan besar dalam merawat telur mereka. Biasanya, tugas menjaga telur lebih umum dilakukan betina di sebagian besar spesies katak. Namun, pada L. phyllofolia, pejantan akan ‘memeluk’ telur-telur mereka, melapisinya dengan zat khusus yang diproduksi kulit mereka untuk menjaga kelembapan dan melindungi dari infeksi jamur maupun bakteri. Tindakan ini merupakan upaya menjaga ketahanan telurnya hingga menetas.
Hanya dua spesies katak bertaring di dunia yang diketahui memiliki peran penjagaan telur oleh pejantan, yaitu L. phyllofolia dan L. arathooni. Berbeda dengan L. phyllofolia, yang bersarang di atas permukaan tanah, L. arathooni lebih memilih tempat di permukaan air di sungai atau kolam. Keunikan L. phyllofolia juga tampak pada ukurannya yang hanya mencapai 3 cm, menjadikannya spesies katak bertaring terkecil di dunia.
Studi ini diharapkan dapat mendorong konservasi habitat tropis Sulawesi, yang menyimpan berbagai spesies unik yang belum seluruhnya dipelajari. Dari 15 spesies katak bertaring di Sulawesi, baru lima yang telah dideskripsikan secara formal. Menurut Jeff Frederick, peneliti utama dan pascadoktoral di Field Museum, Chicago, “Penemuan ini semakin menekankan pentingnya menjaga ekosistem tropis yang unik. Pelestarian hutan ini tidak hanya melindungi satwa-satwa endemik seperti katak ini, tapi juga mendorong penelitian lebih lanjut.” (Sil)
Editor : Prisilia Rumengan