Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Misteri Terpecahkan: Black Hole Kecil dari Masa Awal Alam Semesta Dapat Menjelaskan Kehadiran Black Hole Raksasa yang Terlihat oleh JWST

Prisilia Rumengan • Minggu, 17 November 2024 | 17:07 WIB
Ilustrasi prehistoric Black Hole
Ilustrasi prehistoric Black Hole

RADARPAPUA — Dalam temuan terbaru, para astronom dari UCLA dan Universitas Tokyo menyajikan teori baru tentang pembentukan black hole raksasa di alam semesta awal. Berdasarkan penelitian yang diterbitkan di situs preprint arXiv, tim peneliti ini mengusulkan bahwa black hole kecil berperan penting dalam membentuk black hole supermasif yang terdeteksi di alam semesta oleh teleskop James Webb (JWST).

Observasi terbaru menunjukkan keberadaan quasar, objek bercahaya yang dipicu oleh black hole supermasif, bahkan ketika alam semesta baru berusia ratusan juta tahun. Hal ini mengejutkan karena proses pembentukan black hole yang kita pahami saat ini memerlukan waktu lebih lama. Biasanya, black hole terbentuk dari kematian bintang masif, yang meninggalkan sisa black hole dengan massa hanya beberapa kali massa matahari. Namun, quasar yang teramati memerlukan black hole dengan massa jutaan kali lipat dari matahari.

Untuk menjawab teka-teki ini, penelitian baru ini mengusulkan hipotesis bahwa black hole kecil, yang kemungkinan tercipta langsung dari fluktuasi energi dalam detik-detik pertama setelah Big Bang, memainkan peran utama. Black hole kecil ini, meski menguap seiring waktu melalui radiasi Hawking, diyakini telah berkontribusi pada proses pembentukan black hole raksasa.

Proses yang diusulkan melibatkan awan gas hidrogen raksasa yang mulai runtuh secara perlahan. Biasanya, gas ini akan mendingin terlalu cepat, berubah menjadi molekul hidrogen yang kemudian memecah awan gas menjadi kantong-kantong kecil yang membentuk bintang. Namun, radiasi dari black hole kecil bisa memanaskan gas ini dengan tepat, sehingga mencegah fragmentasi dan memungkinkan awan gas tersebut runtuh secara bertahap menjadi black hole supermasif tunggal.

Penemuan ini menarik karena tidak memerlukan energi atau gaya baru di luar fisika yang sudah kita kenal. Selain itu, teori ini menggabungkan konsep fisika yang kompleks dengan cara yang inovatif, menawarkan penjelasan baru mengenai pembentukan objek-objek raksasa di awal sejarah alam semesta.

Para peneliti berharap dapat melakukan simulasi lebih lanjut untuk memverifikasi teori ini dan menguji apakah model ini mampu mereproduksi jumlah black hole raksasa yang teramati di alam semesta muda. Jika terbukti, temuan ini bisa menjadi kunci bagi teleskop seperti JWST untuk menemukan petunjuk tambahan dan membenarkan hipotesis ini.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#alam semesta #bintang #penemuan #black hole #Peneliti