RADARPAPUA - Penemuan Mumi Anak Homotherium Latidens di Siberia Ungkap Rahasia Kucing Purba di Era Es. Para ilmuwan baru-baru ini mengungkap penemuan luar biasa seekor anak Homotherium latidens, spesies kucing besar prasejarah, yang ditemukan di permafrost Pleistosen di tepi Sungai Badyarikha, Yakutia, Siberia. Penemuan ini memberikan wawasan mendalam tentang adaptasi unik spesies tersebut terhadap lingkungan dingin pada zaman Pleistosen Akhir.
Menurut penelitian, anak Homotherium ini diperkirakan berusia 36.000 tahun. Spesimen yang ditemukan mencakup bagian kepala dan tubuh depan hingga tepi dada. Bahkan, sebagian tulang panggul dan tulang kaki masih terhubung. Fosil tersebut terbungkus dalam lapisan es, melindungi bulu tebal dan anatomi tubuhnya yang unik.
“Homotherium latidens memiliki penampilan yang berbeda dibandingkan kucing besar modern. Dengan leher lebih panjang, kaki depan yang lebar, serta tubuh yang dirancang untuk menahan dingin, spesies ini benar-benar adaptif terhadap iklim ekstrem,” ujar Dr. Alexey Lopatin, peneliti utama.
Anatomi spesimen menunjukkan adaptasi khusus. Leher anak Homotherium lebih tebal daripada anak singa, menunjukkan otot besar untuk mendukung aktivitas berburu. Kaki depannya berbentuk bulat dengan bantalan lebar, menyesuaikan untuk berjalan di salju. Bulunya yang tebal dan berwarna cokelat tua melindunginya dari suhu rendah.
“Karakteristik tubuh Homotherium latidens terlihat bahkan sejak usia tiga minggu,” tambah Dr. Lopatin. “Bentuk tengkorak menunjukkan gigi taring besar untuk mencabik mangsa, sementara cakar tajam dan melengkung memastikan cengkeraman kuat.”
Selain itu, adaptasi morfologis seperti telinga kecil dan hilangnya bantalan karpal pada kaki, serta bentuk kaki depan yang lebar, menegaskan kemampuan spesies ini bertahan di habitat bersalju. Penemuan ini memperluas pemahaman ilmuwan tentang distribusi Homotherium, yang sebelumnya hanya tercatat di Eropa, Afrika, dan Amerika Utara selama Pleistosen.
Dengan tubuh sepanjang 248 mm dari ujung hidung hingga dada, anak Homotherium menunjukkan keunikan fisiologi yang tidak memiliki analog modern. Fitur ini mengindikasikan spesies tersebut adalah pemburu tangguh pada masanya.
Hasil penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports dan menandai pencapaian penting dalam studi paleontologi, di mana untuk pertama kalinya, ilmuwan dapat mempelajari secara langsung penampilan luar hewan purba yang tak memiliki kerabat dekat di fauna modern.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan