RADARPAPUA – Penelitian terbaru mengungkapkan pentingnya keramik dalam ritual dan kontrol kekaisaran Inca. Salah satu ritual utama, capacocha, dilakukan sekitar 500 tahun lalu di pegunungan Peru, Chile, Argentina, dan Ekuador. Dalam ritual ini, anak-anak dikorbankan di puncak gunung sebagai utusan ilahi yang membawa persembahan kepada para dewa.
Dr. Sylwia Siemianowska dari Institut Arkeologi dan Etnologi di Akademi Ilmu Pengetahuan Polandia menjelaskan bahwa keramik yang digunakan dalam ritual ini adalah simbol imperialisme Inca. Penelitiannya, yang diterbitkan dalam Lo que pertenece a las divinidades, mendokumentasikan penemuan keramik di situs pengorbanan di gunung berapi Misti dan Ampato, Peru.
Pada 2020, tim yang dipimpin oleh Dagmara Socha menemukan makam anak-anak berusia 6 hingga 13 tahun di lokasi ini. Mereka dikebumikan bersama 47 patung emas, perak, dan tembaga, artefak dari cangkang Spondylus, serta 32 wadah keramik. Di Ampato, ditemukan 37 wadah keramik lainnya yang kini disimpan di Museo Santuarios Andinos di Arequipa.
Keramik Inca berfungsi penting dalam ritual dan penghormatan terhadap orang yang telah meninggal. Wadah ini dibuat dengan berbagai bentuk, seperti kendi, mangkuk, piring, dan aryballos, bejana khas yang sering digunakan untuk menyimpan chicha, minuman fermentasi khas Andes.
Dalam analisis, ditemukan bahwa mangkuk kecil (puccu) dan aryballos sering digunakan dalam ritual capacocha. Chicha, misalnya, digunakan sebagai persembahan dalam ritual matahari, di mana satu cangkir untuk pemimpin Inca dan satu lagi untuk dewa Matahari.
Keramik juga digunakan untuk persembahan simbolik. Misalnya, darah llama dicampur dengan serbuk cangkang Spondylus dan dimasukkan ke dalam wadah kecil, yang kemudian dilempar ke arah gunung berapi sebagai persembahan simbolis untuk dewa gunung.
Penemuan ini memperkuat pemahaman tentang bagaimana kekaisaran Inca menggabungkan simbolisme keramik dan ritual pengorbanan untuk mempertahankan kekuasaan dan spiritualitas mereka.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan