Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Ilmuwan Pecahkan Misteri King Cobra dengan Penemuan Empat Spesies Baru

Prisilia Rumengan • Kamis, 28 November 2024 | 08:35 WIB
King Kobra (Canva.com)
King Kobra (Canva.com)

RADARPAPUA– Para ilmuwan berhasil mengungkap fakta mengejutkan tentang king cobra, ular berbisa terpanjang di dunia. Sebuah studi terbaru menyatakan bahwa ular ini, yang selama 188 tahun dianggap sebagai satu spesies, sebenarnya terdiri dari empat spesies berbeda. Temuan ini dipublikasikan pada 16 Oktober di European Journal of Taxonomy.

King cobra (Ophiophagus hannah) telah lama dikenal sebagai spesies tunggal. Namun, perbedaan mencolok dalam warna tubuh, pola, dan karakteristik fisik lainnya di berbagai wilayah mendorong para ilmuwan untuk meneliti lebih jauh. Berdasarkan analisis DNA tahun 2021 yang mencakup hampir seluruh wilayah distribusi king cobra, ditemukan empat garis keturunan genetik yang kini telah dikonfirmasi sebagai spesies berbeda.

Studi lanjutan ini menganalisis 153 spesimen museum untuk mempelajari morfologi tubuh, termasuk pola warna, lebar tubuh, dan karakteristik gigi. Hasilnya, empat spesies baru king cobra diidentifikasi:

  1. Northern king cobra (Ophiophagus hannah)
    Ditemukan di sub-Himalaya, India bagian timur, Myanmar, dan Indochina. Memiliki pita kuning bertepi gelap dan 18-21 gigi.

  2. Sunda king cobra (Ophiophagus bungarus)
    Berhabitat di Semenanjung Melayu, Sumatra, Borneo, Jawa, serta Mindoro di Filipina. Cenderung tidak memiliki pola pita atau hanya pita pucat dengan tepi gelap.

  3. Western Ghats king cobra (Ophiophagus kaalinga)
    Terbatas di Ghats Barat, India. Tidak memiliki tepi gelap di sekitar pita pucatnya.

  4. Luzon king cobra (Ophiophagus salvatana)
    Berasal dari Pulau Luzon, Filipina bagian utara. Pola pita tubuhnya lebih tajam dibandingkan spesies lainnya.

Semua spesies ini sangat berbisa dan mampu melepaskan dosis racun yang mematikan dalam satu gigitan. Racun ini dapat membunuh manusia dalam waktu 15 menit. Penelitian ini membuka peluang untuk mengembangkan antivenom yang lebih efektif berdasarkan spesies masing-masing.

Gowri Shankar Pogiri, penulis utama studi dan pendiri Kalinga Foundation, menyebut temuan ini sebagai momen bersejarah. Ia juga menduga ada lebih banyak spesies king cobra yang belum ditemukan, terutama di pulau-pulau kecil yang belum diteliti. “Penelitian lanjutan sudah dimulai,” ujarnya.

Penemuan ini tidak hanya memperkaya pengetahuan taksonomi, tetapi juga membawa dampak besar bagi konservasi ular dan pengembangan antivenom di masa depan.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#king kobra #penelitian #Mematikan #spesies #penemuan #ular #unik #racun