Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Peran Komunitas Adat dalam Menyebarkan Buah Persik di Amerika Utara

Richard Lawongan • Kamis, 28 November 2024 | 18:40 WIB

 

Buah persik
Buah persik


RADARPAPUA - Meskipun para penjelajah Spanyol membawa buah persik pertama ke Amerika Utara, penyebarannya yang luas dan pentingnya buah ini dalam budaya lokal lebih banyak dikembangkan oleh komunitas adat. Penelitian yang diterbitkan di Nature Communications menunjukkan bahwa jaringan politik dan sosial masyarakat adat serta praktik agrikultur mereka menjadi kunci dalam adopsi dan persebaran buah persik di benua ini.

Menurut Jacob Holland-Lulewicz, asisten profesor antropologi di Penn State, buah persik membutuhkan perawatan intensif agar dapat tumbuh dengan baik. Buah ini memerlukan sinar matahari cukup, tanah dengan drainase baik, dan pemangkasan rutin. Penelitian ini mengungkap bahwa penyebaran buah persik bukanlah hasil langsung dari kedatangan Spanyol, tetapi lebih merupakan hasil dari jaringan perdagangan yang kompleks antara komunitas adat dan pemukiman Spanyol.

Para peneliti menggunakan dokumen sejarah, seperti catatan perjalanan Jacques Marquette dan Jonathan Dickinson, serta metode radiokarbon untuk menentukan usia biji persik dari 28 situs arkeologi di wilayah tenggara Amerika Serikat. Penelitian ini menemukan bahwa buah persik telah menyebar luas di pemukiman adat pada tahun 1620, sekitar 100 tahun setelah kedatangan Spanyol pertama di Florida. Kondisi ini terjadi ketika jaringan perdagangan Spanyol mulai terintegrasi dengan jaringan komunitas adat.

Bahkan, biji persik tertua di Amerika Utara ditemukan di sebuah lokasi pertanian di Lembah Oconee, Georgia, yang didiami antara tahun 1520 hingga 1570. Penemuan ini menunjukkan bahwa buah persik mungkin telah mencapai wilayah tersebut beberapa dekade sebelum pemukiman Eropa pertama di St. Augustine didirikan pada tahun 1565. Buah ini kemudian menjadi bagian integral dari budaya adat, dengan masyarakat adat menciptakan varietas baru yang lebih banyak daripada di Eropa pada masa itu.

Hingga saat ini, warisan budaya ini tetap hidup. Komunitas Muscogee (Creek), yang dipaksa bermigrasi selama abad ke-19, masih menanam buah persik sebagai tanaman warisan. Aktivitas ini bukan hanya melestarikan sejarah, tetapi juga menjadi praktik budaya penting yang menunjukkan hubungan mendalam masyarakat adat dengan lingkungan mereka.(aj)

 

Editor : Richard Lawongan
#sejarah Amerika #antropolog #komunitas adat #sejarah pertanian #buah persik