RADARPAPUA – Penemuan arkeologi bawah laut di pesisir Mediterania Mesir mengungkapkan jejak sejarah kota kuno Thonis-Heracleion yang hilang di dasar laut.
Dalam ekspedisi terbaru, para arkeolog menemukan kuil tenggelam yang didedikasikan untuk dewa Amun dan tempat suci bagi dewi Yunani, Aphrodite.
Penemuan ini membawa wawasan baru tentang kehidupan spiritual dan hubungan budaya di zaman Mesir kuno.
Kuil Amun yang ditemukan sebagian besar hancur akibat bencana alam pada pertengahan abad kedua SM.
Menurut pernyataan European Institute for Underwater Archaeology (IEASM), kuil ini dulunya menjadi tempat penting bagi para firaun untuk menerima gelar kekuasaan mereka dari dewa tertinggi Mesir kuno.
Lokasinya berada di kota pelabuhan Thonis-Heracleion, yang pernah menjadi pusat perdagangan internasional sebelum dihancurkan oleh gempa bumi besar dan gelombang pasang yang menyebabkan tanahnya tenggelam ke delta Sungai Nil.
Di antara reruntuhan kuil, para arkeolog menemukan sejumlah "harta karun" termasuk perhiasan emas, alat ritual perak, serta wadah alabaster yang dahulu digunakan untuk menyimpan parfum atau salep.
"Sungguh mengharukan menemukan benda-benda yang begitu rapuh namun tetap utuh meski menghadapi kekuatan dahsyat bencana alam," kata Franck Goddio, pemimpin penggalian dan presiden IEASM.
Penemuan lain yang mengejutkan adalah tempat suci Yunani yang didedikasikan untuk Aphrodite, dewi cinta. Tempat ini penuh dengan artefak seperti benda perunggu dan keramik impor.
Keberadaan tempat suci ini menunjukkan bahwa selama periode Dinasti Saïte (688 SM–525 SM), bangsa Yunani yang diizinkan berdagang dan menetap di kota tersebut juga memiliki tempat ibadah sendiri.
Yang menarik, di sekitar tempat suci Aphrodite, ditemukan pula senjata Yunani yang mengindikasikan kehadiran tentara bayaran Yunani. Para arkeolog menduga mereka mungkin bertugas mempertahankan akses ke Kerajaan Mesir di cabang Canopic Sungai Nil.
Penemuan ini tidak hanya memperkaya pemahaman tentang sejarah Mesir kuno tetapi juga menyoroti hubungan lintas budaya yang erat antara Mesir dan Yunani.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan