RADARPAPUA - Dulu, orang mengira fosil yang terlihat berwarna emas dari bebatuan Posidonia Shale di Jerman disebabkan oleh mineral pyrite, yang sering disebut sebagai "emas bodoh" karena kilaunya. Tapi, ternyata para ilmuwan kini menemukan penyebab lain yang membuat fosil ini berkilau.
Awal tahun ini, tim peneliti dari berbagai negara mengunjungi situs Posidonia Shale yang terkenal dengan fosil hewan lautnya yang sangat terawetkan. Mereka mengumpulkan banyak fosil seperti ammonite, kerang, dan udang purba, yang berusia sekitar 183 juta tahun. Fosil-fosil ini sebesar telapak tangan atau lebih besar.
Baca Juga: Fosil Reptil Raksasa 280 Juta Tahun: Kisah Penemuan Langka yang Terbongkar Berkat Langkah Kecil di Italia!
Ketika para ilmuwan memeriksa fosil tersebut dengan mikroskop elektronik canggih, mereka justru kesulitan menemukan pyrite di fosil-fosil itu. Menurut penelitian yang dipublikasikan pada Maret 2023 di jurnal Earth-Science Reviews, fosil ini ternyata lebih banyak mengandung mineral fosfat dan calcite kuning, bukan pyrite.
"Kami pikir semua fosil di Posidonia Shale pasti terbuat dari pyrite," kata Rowan Martindale, salah satu peneliti dari Universitas Texas, AS. "Tapi saat diperiksa, hanya sedikit pyrite yang ada, dan sebagian besar fosil ternyata terbuat dari fosfat atau calcite kuning. Ini mengejutkan bagi kami."
Setelah memeriksa sekitar 70 fosil, tim peneliti menemukan bahwa lapisan batuan hitam di sekitar fosil mengandung kristal pyrite kecil seperti "raspberry." Tapi pada fosilnya sendiri, mineral yang membuatnya terlihat berkilau adalah fosfat dan calcite kuning.
Apa Artinya Penemuan Ini?
Penelitian ini penting karena pyrite dan fosfat terbentuk di lingkungan yang berbeda. Pyrite hanya terbentuk di tempat yang tidak ada oksigen, sementara fosfat seperti calcite kuning memerlukan oksigen untuk terbentuk.
Awalnya, para ilmuwan berpikir bahwa fosil ini terbentuk di dasar laut tanpa oksigen (anoxic). Tapi ternyata, fosil-fosil ini membutuhkan oksigen di tahap tertentu agar reaksi kimia yang mengawetkan mereka bisa terjadi. Oksigen dan fosfatlah yang mengubah fosil-fosil ini menjadi seperti "emas."
Penemuan ini membantu ilmuwan memahami lebih baik bagaimana proses fosilisasi bekerja, dan memberikan wawasan baru tentang kondisi lingkungan di masa Jurassic. (*)
Editor : Richard Lawongan