RADARPAPUA - Peneliti menemukan lubang biru terdalam kedua di dunia di Teluk Chetumal, dekat Semenanjung Yucatan, Meksiko. Lubang biru ini adalah gua bawah laut besar dengan kedalaman sekitar 274 meter dan luas mencapai 13.660 meter persegi.
Lubang biru ini hanya sedikit lebih dangkal dibandingkan Dragon Hole di Laut China Selatan, lubang biru terdalam di dunia yang ditemukan tahun 2016 dengan kedalaman lebih dari 300 meter.
Apa Itu Lubang Biru?
Lubang biru adalah gua atau lubang vertikal bawah laut yang besar dan biasanya ada di wilayah pantai. Banyak lubang biru yang menjadi rumah bagi berbagai makhluk laut seperti karang, penyu, dan hiu.
Lubang biru yang ditemukan di Teluk Chetumal ini diberi nama Taam Ja’, yang dalam bahasa Maya berarti "air dalam." Dindingnya sangat curam dengan kemiringan hampir 80 derajat, dan pintu masuknya berada sekitar 4,6 meter di bawah permukaan laut.
Bagaimana Lubang Biru Terbentuk?
Lubang biru terbentuk saat air laut bereaksi dengan batu kapur, jenis batuan yang mudah larut. Proses ini banyak terjadi saat zaman es, ketika air laut naik dan turun, mengikis batuan hingga membentuk lubang besar. Saat zaman es terakhir berakhir sekitar 11.000 tahun lalu, air laut naik dan mengisi lubang-lubang ini.
Mengapa Lubang Biru Penting?
Karena letaknya yang sulit dijangkau, banyak lubang biru belum diteliti secara mendalam. Namun, lubang biru memiliki kondisi unik, seperti oksigen yang sangat sedikit dan cahaya matahari hanya di permukaan. Meski begitu, makhluk hidup di dalamnya mampu bertahan dengan beradaptasi pada lingkungan ekstrem.
Lubang biru juga bisa memberikan gambaran tentang kehidupan ribuan tahun lalu. Karena kekurangan oksigen dan cahaya, fosil di dalamnya terawetkan dengan baik. Para ilmuwan bisa mempelajari sisa-sisa makhluk yang sudah punah di lubang biru.
Bahkan, lubang biru mungkin membantu kita memahami kemungkinan kehidupan di planet lain. Pada 2012, ilmuwan menemukan bakteri di lubang biru di Bahama yang hidup di kedalaman tanpa makhluk hidup lainnya. Hal ini bisa menjadi petunjuk tentang kehidupan di kondisi ekstrem di luar angkasa.
Penemuan seperti Taam Ja’ ini membuka jendela baru untuk mempelajari sejarah Bumi, dan siapa tahu, mungkin juga rahasia kehidupan di tempat lain di alam semesta. (*)
Editor : Richard Lawongan