Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Misteri Eye of the Sahara Terungkap: Dari Asal Geologis hingga Artefak Purba

Prisilia Rumengan • Senin, 9 Desember 2024 | 18:14 WIB
Struktur Richat telah digambarkan terlihat seperti irisan bawang raksasa, sasaran tembak, dan amonit yang sangat besar
Struktur Richat telah digambarkan terlihat seperti irisan bawang raksasa, sasaran tembak, dan amonit yang sangat besar

RADARPAPUA - The Eye of the Sahara, atau dikenal sebagai Richat Structure, adalah salah satu keajaiban geologi yang terletak di padang pasir Mauritania.

Struktur ini menyerupai lingkaran raksasa yang terlihat seperti mata banteng dari angkasa.

Dengan diameter mencapai 25 hingga 31 mil (40-50 km), formasi ini telah menjadi perhatian ilmuwan dan astronaut sejak misi antariksa awal pada 1950-an.

Awalnya, para peneliti menduga formasi ini adalah hasil dari tumbukan meteorit, tetapi penelitian lebih lanjut mengungkapkan bahwa Eye of the Sahara terbentuk akibat uplift tektonik selama periode Cretaceous, sekitar 145 hingga 66 juta tahun lalu.

Proses erosi kemudian mengukir struktur menjadi seperti sekarang. Formasi ini berdiri sekitar 200 meter di atas gurun Erg Oudane, hamparan pasir yang luas di barat Afrika.

Struktur ini terdiri dari pusat berupa dataran tinggi kapur dan breksi, sedangkan lingkarannya memiliki pola melingkar yang terdiri dari punggung kuarsit yang tahan erosi dan celah batuan sedimen yang lebih lunak.

Beberapa jenis batuan beku, seperti gabbros dan rhyolites, juga ditemukan di area ini, yang menunjukkan aktivitas vulkanik di masa lalu.

Tidak hanya sebagai objek geologi, Eye of the Sahara juga menyimpan jejak arkeologis penting.

Ekskavasi menemukan alat-alat batu berusia dua juta tahun yang terkait dengan Homo erectus dan Homo heidelbergensis, nenek moyang manusia purba.

Penemuan ini memberikan wawasan berharga tentang kehidupan manusia di wilayah tersebut di masa lalu.

Namun, formasi ini juga menjadi pusat teori kontroversial. Sebagian pihak mengaitkannya dengan Atlantis, kota mitos yang digambarkan oleh Plato.

Meski demikian, para ahli arkeologi dan geologi menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut.

Profesor emeritus Ken Feder dari Central Connecticut State University menegaskan bahwa mitos Atlantis tidak memiliki dasar nyata.

Eye of the Sahara adalah bukti keajaiban alam yang mencerminkan kekuatan geologi dan sejarah manusia, tanpa perlu melibatkan mitologi.

Dengan keindahan dan sejarahnya, formasi ini terus memikat para peneliti dan pelancong dari seluruh dunia.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#artefak #mauritania #Sahara #penemuan #gurun #Alam #purba #geologi