RADARPAPUA - Gladiator Romawi sering digambarkan bertarung hingga salah satu mati, seperti di film "Gladiator" (2000). Tapi, apakah itu benar-benar terjadi?
Kadang-kadang memang begitu, tapi tidak selalu, menurut para ahli. Gladiator tidak selalu mati dalam setiap pertarungan, tergantung pada aturan dan waktu. Misalnya, lukisan makam dari abad ke-4 SM di Italia menunjukkan gladiator terluka parah hingga mati. Namun, setelah tahun 27 SM, angka kematian gladiator menurun karena adanya perubahan aturan.
Perubahan Aturan Gladiator
Pada zaman Kaisar Augustus (30 SM–14 M) dan Tiberius (14–37 M), hanya satu dari lima pertarungan yang berakhir dengan kematian. Bahkan, gladiator yang kalah bisa menyerah dengan menjatuhkan perisai dan mengangkat jari telunjuk. Seorang wasit, disebut summa rudis, bertugas menghentikan pertarungan jika nyawa gladiator terancam.
Namun, jika penyelenggara ingin gladiator yang kalah dibunuh, mereka harus membayar mahal kepada pemilik gladiator. Ini karena gladiator sering disewa, bukan dimiliki langsung oleh penyelenggara.
Gladiator Sukarela dan Kematian yang Naik Lagi
Karena angka kematian rendah, beberapa orang bebas bahkan memilih menjadi gladiator. Tetapi, pada abad ke-3 M, keinginan masyarakat untuk melihat pertarungan yang lebih kejam meningkat. Akibatnya, setengah dari pertarungan berakhir dengan kematian. Hingga abad ke-4 M, banyak mosaik menunjukkan gladiator kalah yang tewas di arena.
Tahanan Tak Terlatih
Selain gladiator, ada juga tahanan yang dihukum mati dengan cara dilempar ke arena untuk melawan hewan buas. Mereka tidak dilatih dan biasanya hanya diberi senjata seadanya. Para tahanan ini menjadi "hiburan pemanasan" sebelum pertarungan gladiator dimulai.
Karena murah dan kejam, metode ini digunakan untuk menghibur sekaligus menakut-nakuti masyarakat agar tidak melakukan kejahatan. Sebuah peringatan keras: "Jangan berbuat kriminal, atau kamu akan berakhir di sini."
Seiring waktu, popularitas pertarungan gladiator menurun, terutama pada abad ke-5, dan pertandingan sampai mati menjadi jarang terjadi. (*)