RADARPAPUA - Para arkeolog menemukan amulet perak kecil berusia 1.800 tahun di makam seorang pria di Frankfurt, Jerman. Amulet ini adalah bukti tertua Kekristenan di utara Pegunungan Alpen. Temuan ini mungkin mengubah cara pandang sejarah tentang bagaimana Kekristenan dipraktikkan pada masa Kekaisaran Romawi awal.
Amulet itu ditemukan dalam kondisi tergulung rapat dan hanya sepanjang 3,5 cm. Dengan bantuan teknologi CT scan, para peneliti berhasil membuka secara digital gulungan amulet dan membaca tulisan di dalamnya. Tulisan tersebut, yang terdiri dari 18 baris dalam bahasa Latin, menyebut nama Yesus Kristus dan menunjukkan bahwa pria ini adalah seorang Kristen.
Pada masa itu, Kekristenan adalah agama yang berbahaya untuk dipraktikkan karena sering dianiaya oleh Kekaisaran Romawi. Namun, pria ini tetap memilih membawa amulet berisi doa-doa ini hingga ke makamnya.
Amulet seperti ini biasanya digunakan untuk perlindungan dari bahaya seperti penyakit, kesulitan, atau kekuatan jahat. Biasanya, amulet semacam ini ditemukan di wilayah Mediterania Timur dan ditulis dalam bahasa Yunani atau Ibrani. Namun, amulet dari Frankfurt ini hanya menggunakan tulisan Latin dan berisi doa-doa Kristen, tanpa campuran kepercayaan lain seperti Yahudi atau Paganisme.
Tulisan di dalam amulet mencantumkan frasa "Kudus, kudus, kudus!" yang baru dikenal luas dalam Kekristenan pada abad ke-4. Temuan ini menunjukkan bahwa pengaruh Kristen mungkin telah menyebar lebih awal ke wilayah Jerman dibanding yang selama ini diperkirakan.
Para ahli menyebut amulet ini sebagai salah satu temuan paling penting dalam studi awal Kekristenan. Wali Kota Frankfurt bahkan menyebut penemuan ini sebagai "sensasi ilmiah" yang mengubah sejarah Kekristenan di wilayah tersebut. (*)
Editor : Richard Lawongan