RADARPAPUA - Neanderthal adalah manusia purba yang punah sekitar 40.000 tahun lalu. Mereka sering disebut sebagai kerabat evolusi terdekat manusia modern. Namun, sejak fosil Neanderthal ditemukan pada tahun 1800-an, para ilmuwan terus berdebat: apakah Neanderthal termasuk spesies yang berbeda atau hanya kelompok manusia purba dalam spesies kita, Homo sapiens, yang punah?
Menurut ilmu biologi, satu spesies adalah kelompok makhluk hidup yang bisa kawin dan punya keturunan yang sehat. Namun, ada pengecualian. Misalnya, kuda dan keledai bisa kawin, tetapi anaknya (bagal) tidak bisa punya keturunan. Jadi, mereka dianggap spesies berbeda. Namun, ada hewan seperti liger (persilangan singa dan harimau) yang tetap subur.
Para ilmuwan dulu tidak tahu apakah Neanderthal dan manusia modern kawin. Maka, mereka membandingkan bentuk tulang. Tulang Neanderthal berbeda dari manusia modern. Tengkorak mereka lebih panjang dan dahi lebih menonjol, tubuh mereka juga lebih kekar. Karena itu, pada tahun 1864, Neanderthal diklasifikasikan sebagai spesies berbeda bernama Homo neanderthalensis.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan Neanderthal lebih mirip manusia. Mereka mungkin bisa berbicara, membuat seni, bahkan mengubur jenazah. Pada 2010, penelitian genetik menemukan bukti bahwa manusia modern dan Neanderthal pernah kawin, setidaknya 120.000 tahun lalu. Bahkan, gen Neanderthal masih ditemukan di manusia zaman sekarang, terutama pada orang non-Afrika.
Jadi, apakah Neanderthal dan manusia modern adalah spesies yang sama? Para ahli masih berdebat. Beberapa percaya perbedaan bentuk tubuh tidak berarti mereka spesies berbeda. Faktanya, gen Neanderthal dan manusia modern 99,7% mirip. Namun, ada juga ilmuwan yang berpendapat bahwa Neanderthal berkembang terpisah di Eropa dan Asia selama 400.000 tahun, sehingga punya ciri khas genetik untuk bertahan di iklim dingin.
Kesimpulannya, apakah Neanderthal dan Homo sapiens adalah satu spesies atau berbeda, masih jadi pertanyaan besar. Para ilmuwan sepakat bahwa lebih banyak penelitian diperlukan untuk memahami hubungan ini. (*)
Editor : Richard Lawongan