Syphilis: Mengungkap Asal-Usul Penyakit yang Mengubah Sejarah
Prisilia Rumengan• Kamis, 19 Desember 2024 | 13:24 WIB
Elemen kerangka (pinggul atas) yang menghasilkan genom mirip sifilis kuno.
RADARPAPUA - Pada musim semi tahun 1495, Eropa diguncang oleh epidemi mematikan yang kini diidentifikasi sebagai wabah pertama penyakit sifilis. Penyakit ini muncul tak lama setelah kembalinya ekspedisi Columbus dari Amerika, memunculkan teori "Kolumbian" yang menyebut bahwa sifilis berasal dari Benua Amerika dan menyebar ke Eropa melalui kontak awal antara kedua dunia tersebut. Namun, penelitian terbaru menawarkan pandangan yang lebih kompleks tentang asal-usul penyakit ini.
Melalui analisis DNA patogen dari tulang purba, tim ilmuwan dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology menemukan bukti kuat bahwa Amerika merupakan pusat keberagaman awal penyakit keluarga sifilis, termasuk yaws dan bejel. Data ini menunjukkan bahwa penyakit-penyakit ini sudah ada di Amerika jauh sebelum kedatangan Columbus, mendukung teori bahwa sifilis berasal dari Amerika dan diperkenalkan ke Eropa pada akhir abad ke-15.
Temuan ini menjelaskan bagaimana eksplorasi dan ekspansi kolonial Eropa mempercepat penyebaran sifilis secara global. Wabah sifilis pada abad ke-16 kemungkinan dipicu oleh interaksi manusia lintas benua, termasuk perdagangan manusia dan penjajahan, yang memperluas jangkauan penyakit ini ke Afrika dan Asia.
Namun, bukti lesi tulang serupa sifilis dari Eropa pra-1492 menimbulkan pertanyaan baru. Lesi ini menunjukkan keberadaan penyakit mirip sifilis di Eropa, tetapi sulit untuk membedakan jenis penyakitnya tanpa analisis genetik yang lebih mendalam. Tim peneliti terus mencari jejak penyakit terkait yang mungkin ada sebelum munculnya sifilis modern.
Penelitian ini menegaskan pentingnya teknologi genetik dalam memahami sejarah penyakit. Dengan menelusuri perjalanan evolusi sifilis, para ilmuwan berharap dapat mengungkap lebih banyak tentang interaksi manusia dan patogen yang membentuk sejarah kesehatan global.(aj)