Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Belut Moray Bermata Kacang di Gua Laut Mengungkap Adaptasi Menakjubkan pada Kegelapan

Prisilia Rumengan • Minggu, 22 Desember 2024 | 20:13 WIB
Dua ekor belut moray yang ditemukan di gua di Pulau Christmas, Australia, memiliki kulit yang menutupi mata kirinya.
Dua ekor belut moray yang ditemukan di gua di Pulau Christmas, Australia, memiliki kulit yang menutupi mata kirinya.

RADARPAPUA – Penemuan baru mengungkap kehadiran belut moray bermata kacang (bean-eyed snake moray atau Uropterygius cyamommatus) yang tinggal di gua-gua gelap bawah laut.

Spesies ini, yang ditemukan di Pulau Christmas, Australia, dan Pulau Panglao, Filipina, diduga beradaptasi dengan lingkungannya yang gelap dengan tumbuhnya kulit di atas mata mereka.

Penelitian yang dipimpin oleh Wen-Chien Huang, mahasiswa doktoral di National Sun Yat-sen University, Taiwan, menunjukkan bahwa dua spesimen belut ini memiliki mata kiri yang tertutup kulit.

“Kami belum dapat memastikan apakah ini adaptasi alami atau akibat cedera. Namun, ukuran mata mereka adalah yang terkecil yang pernah kami lihat pada belut moray,” ujar Huang.

Eksplorasi pertama spesies ini dilakukan pada 2001, ketika belut ini ditemukan di Pulau Panglao. Namun, hingga kini, keberadaan mereka tidak dikenali sebagai spesies baru.

Belut moray bermata kacang sebelumnya sempat disalahidentifikasi sebagai spesies lain, Echidna unicolor.

Ciri khas belut ini adalah matanya yang kecil seperti kacang dan ekornya yang lebih panjang dibandingkan spesies moray lainnya.

Berbeda dengan Echidna unicolor, belut moray bermata kacang hanya ditemukan di beberapa gua di Pulau Christmas dan Pulau Panglao.

Peneliti menduga belut ini beradaptasi dengan gelapnya gua untuk mengurangi biaya energi yang diperlukan oleh penglihatan.

Mereka juga menemukan bahwa belut ini memiliki nafsu makan yang besar terhadap krustasea yang melimpah di gua-gua tersebut.

“Kemungkinan makanan menjadi alasan utama mereka pindah ke habitat gua,” kata Huang.

Hingga kini, para ilmuwan masih mempelajari proses evolusi unik ini. Dengan jumlah spesimen yang terbatas, penelitian lanjutan membutuhkan lebih banyak sampel segar untuk menjawab pertanyaan terkait adaptasi ini.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#penelitian #arkeolog #penemuan #belut moray #belut #Evolusi #hewan laut