RADARPAPUA - Penemuan peluit berbentuk tengkorak di situs Aztec telah mengungkap misteri baru tentang kehidupan dan budaya masyarakat kuno tersebut.
Peluit, yang dikenal sebagai death whistle, menghasilkan suara menyerupai jeritan melengking yang mengganggu, mirip dengan campuran suara manusia dan artifisial.
Temuan ini membuka diskusi tentang penggunaannya dalam ritual dan kehidupan sehari-hari Aztec.
Menurut penelitian Sascha Frühholz, profesor Psikologi di Universitas Oslo, peluit ini mungkin memiliki peran simbolis dalam ritual pengorbanan atau perang.
Studi yang melibatkan 32 partisipan menunjukkan bahwa suara peluit memicu reaksi emosional kuat, mirip dengan efek sirene atau jeritan manusia yang mencerminkan rasa takut, sakit, atau marah.
“Orang-orang menganggap suara ini sangat menakutkan. Suara ini menyerupai jeritan atau sesuatu yang ingin kita hentikan,” ujar Frühholz.
Dalam eksperimen, peluit ini dibandingkan dengan lebih dari 2.500 suara lain, termasuk suara manusia, alat, dan musik.
Hasilnya, suara peluit dianggap paling mengganggu dan memunculkan asosiasi mistis pada pendengar.
Peluit, yang dibuat dari tanah liat dan berukuran tiga hingga lima sentimeter, diduga memiliki koneksi simbolis dengan dewa Aztec seperti Mictlantecuhtli, dewa dunia bawah, atau Ehecatl, dewa angin.
Menurut mitologi, Ehecatl membawa tulang-tulang dari dunia bawah untuk menciptakan manusia.
Dalam konteks ritual, suara peluit mungkin melambangkan perjalanan berbahaya menuju dunia bawah, tempat jiwa-jiwa yang dikorbankan dipercayai pergi.
Selain itu, teori lain menyebutkan peluit ini digunakan untuk menakut-nakuti musuh dalam perang.
“Suara ini menciptakan atmosfer tertentu, baik untuk menenangkan atau mempersiapkan korban dalam ritual,” tambah Frühholz.
Penemuan peluit di kuburan individu yang dikorbankan juga mendukung hipotesis ini, menunjukkan bahwa peluit mungkin membantu jiwa-jiwa dalam perjalanan mereka ke dunia bawah.
Meskipun interpretasi ini masih berupa spekulasi, Frühholz menegaskan bahwa hasil penelitian ini konsisten dengan bukti yang ada.
Temuan ini tidak hanya memperdalam pemahaman tentang budaya Aztec tetapi juga menghubungkan kita dengan emosi dan simbolisme yang pernah menjadi bagian integral dari masyarakat kuno tersebut.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan