RADARPAPUA - Islandia, negeri kecil dengan populasi sekitar 380.000 jiwa, memiliki tradisi sastra yang kaya sejak Abad Pertengahan. Bahkan, konon satu dari dua orang Islandia menulis buku. Tradisi ini mencerminkan bagian dari budaya Eropa yang luas, dengan pengaruh dari Inggris, Jerman, Denmark, hingga Norwegia. Penulis saga legendaris seperti Snorri Sturluson telah melestarikan kisah para raja Viking dalam bentuk naskah yang terus hidup hingga kini.
Namun, ada dimensi lain dari literatur Islandia yang tersembunyi dalam palimpsest vellum—parchment dari kulit sapi muda yang telah digunakan kembali untuk menulis teks baru. Bahan vellum ini sangat berharga, sehingga saat sebuah buku usang, naskahnya dihapus, dan parchment digunakan ulang untuk teks baru, baik dalam bahasa Latin maupun Islandia. Praktik ini tidak hanya umum di Islandia, tetapi juga unik dalam konteks sejarah Eropa.
Menurut Tom Lorenz, seorang peneliti di NTNU, sisa-sisa teks kuno yang terhapus ini menyimpan potongan sejarah penting. Dengan teknik modern seperti sinar inframerah, ia meneliti fragmen teks Latin yang terlupakan. Dari himne, doa, hingga musik gereja, temuan ini mengungkap bahwa masyarakat Islandia Abad Pertengahan aktif berpartisipasi dalam budaya intelektual Eropa.
Palimpsest ini juga mencerminkan perubahan besar dalam literatur Islandia. Setelah Reformasi Protestan pada abad ke-16, tulisan dalam Latin digantikan oleh bahasa Islandia. Teks-teks baru ini menjadi saksi perubahan spiritual dan budaya yang mendalam, meninggalkan jejak sejarah yang tersembunyi di bawah lapisan tulisan baru.
Dengan menggali arsip-arsip di Islandia, Denmark, dan Norwegia, Lorenz mengungkap teks-teks yang sebelumnya tidak dikenal. Penelitian ini tidak hanya memperluas pemahaman tentang budaya literatur Islandia, tetapi juga membuka jalan bagi rekonstruksi virtual fragmen-fragmen kuno. Warisan ini, yang berawal dari tradisi lisan Viking hingga naskah Latin, menjadi pengingat bahwa kekayaan sejarah bisa ditemukan bahkan di tempat paling tersembunyi.(aj)