Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Perpecahan Genetik di Mediterania: Penemuan Baru Tentang Asal Usul Bahasa Indo-Eropa

Richard Lawongan • Kamis, 26 Desember 2024 | 11:01 WIB
Distribusi proporsi turunan turunan Bell Beaker dan turunan Yamnaya diperoleh dari model pencampuran IBD.
Distribusi proporsi turunan turunan Bell Beaker dan turunan Yamnaya diperoleh dari model pencampuran IBD.

RADARPAPUA - Tim yang terdiri dari 91 peneliti, termasuk genetika terkenal Eske Willerslev dari Lundbeck Foundation GeoGenetics Center, menemukan bukti perpecahan genetik pada Zaman Perunggu yang terkait dengan penutur bahasa Indo-Eropa di Mediterania Timur dan Barat. Penelitian ini mengaitkan populasi Spanyol, Prancis, dan Italia dengan kelompok Bell Beaker, sementara Yunani dan Armenia terkait langsung dengan populasi Yamnaya dari Stepa Pontik.

Bahasa Indo-Eropa, yang mencakup sebagian besar Eropa dan Asia Barat, diyakini berasal dari migrasi penduduk Zaman Perunggu Awal di Stepa Pontik, wilayah yang membentang dari Laut Hitam hingga Laut Kaspia. Dengan menganalisis 314 genom kuno dari berbagai wilayah seperti Spanyol, Italia, Yunani, hingga Suriah, serta 2.403 genom yang telah dipublikasikan sebelumnya, para peneliti menemukan dua ekspansi terpisah dari nenek moyang Stepa menuju Mediterania.

Hasilnya menunjukkan bahwa populasi Bell Beaker, yang bercampur dengan petani Eropa lokal, menyebar ke barat hingga Italia, Prancis, dan Spanyol. Ini sesuai dengan model linguistik Italo-Keltik yang mengaitkan bahasa Latin dan Keltik pada akar yang sama. Sebaliknya, nenek moyang Stepa di Yunani dan Armenia berasal langsung dari populasi Yamnaya tanpa campuran lokal yang signifikan. Di Yunani, nenek moyang ini muncul sejak 3.800 tahun yang lalu, bersamaan dengan munculnya peradaban Mykenai, sementara di Armenia, jejak ini ditemukan selama Zaman Perunggu Tengah.

Para peneliti juga menggunakan analisis isotop strontium pada 224 individu untuk melacak pola migrasi. Teknik ini mengidentifikasi perbedaan antara penduduk lokal dan non-lokal, seperti individu di Pian Sultano, Italia, yang menunjukkan asal usul masa kecil dari wilayah yang jauh. Di Siprus, satu individu bahkan menunjukkan isotop yang cocok dengan asal Skandinavia, mengungkap jaringan perdagangan Mediterania yang luas.

Dengan menggabungkan data genetik dan isotop, penelitian ini mendukung hipotesis linguistik Italo-Keltik dan Graeco-Armenian, memperkuat pemahaman tentang peran migrasi Stepa dalam membentuk populasi dan budaya di Mediterania kuno. Temuan ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana genetik, bahasa, dan mobilitas manusia berinteraksi di masa lalu.(aj)

 

Editor : Richard Lawongan
#BellBeaker #Genetika #Mediterania #arkeologi #zaman perunggu