Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Kisah Kekerabatan Elit Moche di Peru: Penemuan Menakjubkan di Huaca Cao Viejo

Prisilia Rumengan • Senin, 30 Desember 2024 | 09:16 WIB

Peta Kandang Grup Señora.
Peta Kandang Grup Señora.

RADARPAPUA - Para peneliti dari Universitas Harvard mengungkap fakta baru mengenai hubungan kekerabatan dalam kelompok elit Moche melalui penggalian di Huaca Cao Viejo, Peru. Temuan ini mengungkapkan bahwa status sosial masyarakat Moche pada abad ke-5 Masehi sangat bergantung pada hubungan keluarga. Salah satu penemuan utama adalah keterkaitan genetik antara Señora de Cao, seorang tokoh penting, dengan seorang saudara, seorang kakek, serta dua anak muda yang menjadi korban pengorbanan ritual.

Masyarakat Moche, yang hidup di pesisir utara Peru antara abad ke-4 hingga ke-10 Masehi, dikenal membangun kuil adobe monumental (huacas) dan sistem irigasi yang rumit. Penelitian sebelumnya telah menduga bahwa kekerabatan memengaruhi status sosial dan politik mereka. Dalam studi yang diterbitkan di PNAS, analisis DNA kuno dari enam individu yang ditemukan di kompleks makam menguatkan dugaan ini. Para peneliti juga menggunakan isotop untuk melacak pola diet dan asal-usul geografis individu tersebut.

Hasil analisis menunjukkan bahwa kebanyakan anggota elit Moche mengonsumsi makanan berbasis tanaman C4 seperti jagung, yang mencapai 70% dari total asupan tanaman mereka, serta protein laut sebesar 45-70%. Namun, dua anak yang dikorbankan menunjukkan pola isotop strontium dan oksigen yang berbeda, mengindikasikan asal-usul dari wilayah jauh di pedalaman atau dataran tinggi. Salah satu korban, seorang remaja perempuan (B3s), terbukti memiliki hubungan kekerabatan tingkat dua dengan Señora de Cao, memperlihatkan koneksi keluarga lintas wilayah.

Señora de Cao sendiri dimakamkan dengan regalia mewah seperti mahkota, perhiasan, dan alat-alat upacara, menunjukkan statusnya sebagai pemimpin spiritual atau penyembuh, meski ia meninggal pada usia muda, 25 tahun. Sementara itu, penempatan tulang kakeknya di makam yang sama mencerminkan penghormatan terhadap leluhur untuk memperkuat legitimasi kekuasaan. Namun, kontras terlihat pada masa depan, di mana pengorbanan ritual terhadap anak-anak menunjukkan pola kekerasan yang terjalin dengan kekerabatan elit.

Penemuan ini memberikan wawasan mendalam tentang masyarakat Moche, di mana kekuasaan dan kekayaan erat kaitannya dengan hubungan keluarga, bahkan setelah kematian. Dengan keahlian dalam teknologi dan seni pengorbanan ritual, masyarakat ini menegaskan bahwa status sosial tidak hanya diwariskan tetapi juga dipertahankan melalui praktik keagamaan yang kompleks.(aj)

 

Editor : Prisilia Rumengan
#masyarakat kuno #peru #arkeologi #sejarah #Budaya Moche