RADARPAPUA - Di hutan Trandum, satu jam perjalanan dari Oslo, Norwegia, terdapat saksi bisu dari salah satu tragedi kelam Perang Dunia II.
Di sini, selama pendudukan Nazi, ratusan orang Norwegia dan tawanan asing dieksekusi secara brutal.
Petter Aunaas, kepala Institut Trandum, memimpin upaya pelestarian sejarah ini, dengan menggali kisah para korban dan lokasi eksekusi.
Di makam nomor 17, Aunaas mengenang peristiwa tragis 9 Mei 1944, ketika 19 tahanan ditembak mati di tepi kuburan massal.
“Para tahanan dibawa pada malam hari, diikat, dan ditembak beruntun. Pagi-pagi, semuanya selesai,” katanya.
Suara tembakan bercampur dengan latihan militer membuat warga sekitar tidak menyadari tragedi ini.
Kisah Para Pejuang yang Gugur
Salah satu kisah tragis adalah tentang Leif Dahl, instruktur senjata dari kelompok Milorg, dan Rolf Schulstad, pengangkut senjata perlawanan.
Mereka ditangkap pada awal 1944, disiksa oleh Gestapo, dan dieksekusi hanya beberapa bulan kemudian. Nama mereka kemudian diabadikan sebagai simbol keberanian.
Ferdinand Tjemsland, pemimpin kelompok perlawanan komunis di Stavanger, juga berakhir di hutan Trandum setelah ditangkap karena aktivitas ilegal.
Ia dijatuhi hukuman mati bersama delapan rekannya. “Para terdakwa menerima hukuman dengan kepala tegak,” tulis seorang saksi.
Mayor Arne Laudal, pemimpin perlawanan di Norwegia Selatan, adalah salah satu korban paling terkenal.
Sebelum dieksekusi, ia memberi semangat kepada rekan-rekannya, berkata, “Untuk Norwegia, tidak ada pengorbanan yang terlalu besar.”
Penggalian Kuburan Massal Setelah Perang
Pada 1945, setelah pembebasan Norwegia, rumor tentang kuburan massal di hutan Trandum terbukti benar.
Sebanyak 194 mayat ditemukan di 18 kuburan massal. Institut Forensik Oslo bekerja keras mengidentifikasi para korban, dan keluarga diberi kesempatan untuk memberikan penghormatan terakhir.
Para algojo, anggota Sonderkommando, sebagian besar melarikan diri setelah perang. Namun, banyak yang tertangkap dan diadili.
Salah satunya adalah Oskar Hans, yang memimpin eksekusi. Meski awalnya dijatuhi hukuman mati, ia kemudian dihukum penjara dan dibebaskan pada 1954.
Melestarikan Sejarah Trandum
Hari ini, Yayasan Trandum dan Institut Trandum bekerja untuk memastikan sejarah kelam ini tidak terlupakan.
Lokasi eksekusi telah diubah menjadi museum militer dan pusat sejarah budaya. Aunaas berharap generasi mendatang dapat belajar dari peristiwa ini dan menghormati keberanian mereka yang berjuang untuk kebebasan.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan