RADARPAPUA - Gletser yang mencair akibat pemanasan global di Norwegia Selatan tak hanya menjadi pengingat dampak perubahan iklim, tetapi juga membuka jendela baru untuk memahami sejarah manusia.
Lars Pilø, seorang arkeolog dari Oppland County, dan timnya telah menemukan lebih dari 2.000 artefak kuno yang sebelumnya tersembunyi di bawah lapisan es.
Dalam 20 tahun terakhir, gletser yang menyusut telah memperlihatkan lapisan-lapisan artefak kuno yang berasal dari berbagai zaman.
“Sebenarnya, kita seharusnya menuju zaman es baru secara perlahan. Namun, pemanasan global menyebabkan kita melihat artefak yang muncul di musim panas dari lapisan es yang mencair,” ujar Pilø.
Pada musim panas 2014, Pilø dan timnya berhasil menemukan lebih dari 400 artefak di Oppland County.
Di antara benda-benda itu terdapat tengkorak kuda, tongkat pendakian dari Zaman Viking, serta batang panah yang diperkirakan berasal dari Zaman Batu.
Artefak-artefak ini memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat pegunungan di masa lalu.
Rute kuno yang melintasi pegunungan Norwegia menjadi jalur utama masyarakat membawa ternak atau bepergian ke pertanian musim panas.
Selama perjalanan ini, mereka meninggalkan berbagai barang, baik yang sengaja ditinggalkan maupun hilang.
“Kami sering menemukan benda-benda terkait perburuan, sarung tangan, sepatu, hingga kerangka kuda yang mati dalam perjalanan,” tambah Pilø.
Penemuan semacam ini juga terjadi di pegunungan lain, seperti Pegunungan Rocky, Andes, dan Alpen.
Penemuan artefak dari gletser menciptakan bidang studi baru dalam arkeologi yang dikenal sebagai arkeologi glasial.
Bahkan, pada November 2014, sebuah jurnal khusus bernama Jurnal Arkeologi Glasial diluncurkan untuk mendokumentasikan temuan dari seluruh dunia.
Para arkeolog kini bekerja dengan cepat untuk mengumpulkan dan melestarikan artefak ini sebelum es mencair sepenuhnya.
Artefak yang ditemukan memberikan wawasan tentang kehidupan manusia dari Zaman Batu hingga era Viking, menjadikannya warisan sejarah yang sangat berharga.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan