RADARPAPUA - Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa "Lucy," fosil Australopithecus afarensis berusia 3,2 juta tahun, tidak mampu berlari secepat manusia modern. Namun, penelitian terhadap kemampuan larinya memberikan wawasan baru tentang evolusi anatomi manusia yang mendukung performa lari.
Manusia modern mampu berjalan dan berlari dengan efisien berkat evolusi sekitar 2 juta tahun lalu pada Homo erectus. Namun, leluhur manusia sebelumnya, termasuk australopithecines yang hidup 4 juta tahun lalu, juga sudah berjalan dengan dua kaki. Dengan tubuh yang berbeda—lengan panjang dan kaki pendek—para peneliti menduga mereka kurang efisien dibanding manusia modern.
Dalam studi yang diterbitkan di Current Biology, tim peneliti menggunakan model anatomi kerangka dan otot Lucy untuk menghitung kecepatan larinya. Hasilnya, Lucy hanya mampu berlari hingga 18 km/jam, jauh lebih lambat dibanding manusia modern yang bisa mencapai 22 km/jam, bahkan Usain Bolt yang memecahkan rekor dengan 43 km/jam. Selain lambat, Lucy juga membutuhkan 1,7 hingga 2,9 kali lebih banyak energi untuk berlari, menunjukkan bahwa perjalanan jarak jauh akan jauh lebih melelahkan baginya.
Salah satu faktor kunci di balik kemampuan lari yang terbatas ini adalah bentuk tendon Achilles dan otot betis Lucy yang berbeda dengan manusia modern. Tendon Achilles manusia, yang panjang dan elastis, memberikan efisiensi dan kekuatan pada pergelangan kaki. Ketika peneliti memodelkan Lucy dengan tendon Achilles yang menyerupai manusia modern, perbedaan kecepatannya berkurang, meskipun tubuh kecil Lucy tetap menjadi hambatan utama.
Penelitian ini menunjukkan pentingnya evolusi anatomi tendon Achilles dan otot betis dalam performa lari manusia. Studi ini juga menandai pertama kalinya kemampuan lari spesies Lucy diestimasi langsung menggunakan pemodelan muskuloskeletal. Namun, penelitian lanjutan diperlukan untuk memahami lebih dalam perbedaan gaya berjalan dan lari antara australopithecines dan manusia modern, termasuk efek gerakan lengan dan rotasi tubuh.(aj)