Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Penemuan Fosil Lumba-Lumba Purba di Amazon Peru Membuka Tabir Sejarah Keanekaragaman Hayati

Prisilia Rumengan • Jumat, 3 Januari 2025 | 14:15 WIB
Spesimen jenis (holotipe) Pebanista yacuruna, termasuk foto spesimen dan model 3D permukaan dalam tampilan dorsal.
Spesimen jenis (holotipe) Pebanista yacuruna, termasuk foto spesimen dan model 3D permukaan dalam tampilan dorsal.

RADARPAPUA - Penemuan luar biasa berhasil diungkap oleh tim ilmuwan internasional yang menemukan fosil lumba-lumba air tawar terbesar yang pernah tercatat, Pebanista yacuruna.

Fosil ini berasal dari sekitar 16,5 juta tahun lalu dan ditemukan di wilayah Amazon Peru, tepatnya di formasi fosil Pebas.

Penelitian mengungkap bahwa spesies kuno ini memiliki hubungan terdekat bukan dengan lumba-lumba sungai Amazon modern—yang dikenal sebagai lumba-lumba merah muda—melainkan dengan lumba-lumba sungai di Asia Selatan.

“Pada masa hidup lumba-lumba ini, Amazon belum memiliki sungai besar yang mengalir ke Atlantik seperti saat ini. Sebaliknya, kawasan tersebut dipenuhi rawa-rawa luas yang dikenal sebagai sistem mega-rawa Pebas,” ungkap John Flynn, Kurator Fosil Mamalia di Museum Sejarah Alam dan salah satu penulis studi yang diterbitkan di Science Advances.

Penemuan ini membantu ilmuwan memahami sejarah ekosistem tropis dan evolusi kehidupan modern di kawasan Amazon.

Sejak 2002, tim ekspedisi yang dipimpin Flynn bersama kolaborator Peru, Rodolfo Salas-Gismondi, telah meneliti fosil di kawasan tersebut.

Mereka menemukan berbagai jenis fosil, termasuk fosil buaya, mamalia, kura-kura, ikan, hingga tumbuhan prasejarah.

Pada tahun 2018, tim ini menemukan fosil tengkorak lumba-lumba sungai purba yang menjadi titik awal identifikasi Pebanista yacuruna.

Menurut Aldo Benites-Palomino, paleontolog dari Universitas Zurich sekaligus penulis utama penelitian, Pebanista memiliki panjang tubuh 3–3,5 meter dan berbagi fitur unik dengan lumba-lumba sungai Asia Selatan, seperti struktur tulang wajah yang menunjang kemampuan ekolokasi. Fitur ini memungkinkan lumba-lumba “melihat” melalui gelombang suara dan gema, penting untuk navigasi di perairan keruh.

Dengan moncong panjang dan gigi-gigi kecil, Pebanista kemungkinan besar memangsa ikan, seperti lumba-lumba sungai lainnya.

Namun, sekitar 10 juta tahun lalu, perubahan ekosistem akibat pembentukan Amazon modern menyebabkan kepunahan spesies ini.

Kekosongan ekologis tersebut kemudian dimanfaatkan oleh nenek moyang lumba-lumba sungai Amazon modern yang berevolusi dari habitat laut ke air tawar.

Penemuan ini tidak hanya memperkaya sejarah evolusi lumba-lumba sungai, tetapi juga memberikan wawasan mendalam tentang dinamika perubahan ekosistem tropis yang memengaruhi keanekaragaman hayati hingga saat ini.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#fosil #lumba lumba #arkeolog #penemuan #amazon #sejarah #purba