Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Makam Kaisar Tiongkok Berusia 1.400 Tahun: Bukti Perebutan Kekuasaan Antar Saudara dan Panglima Perang

Richard Lawongan • Minggu, 5 Januari 2025 | 22:38 WIB

Makam ini digali di pinggiran kota Xianyang di provinsi Shaanxi, di sebuah area dengan makam-makam berstatus tinggi lainnya. Makam ini berasal dari tahun 557 Masehi.
Makam ini digali di pinggiran kota Xianyang di provinsi Shaanxi, di sebuah area dengan makam-makam berstatus tinggi lainnya. Makam ini berasal dari tahun 557 Masehi.

RADARPAPUA -
Makam kaisar Tiongkok yang berusia 1.400 tahun mengungkap perebutan kekuasaan antara saudara-saudara kerajaan dan seorang panglima perang. Sebelumnya, kisah ini hanya diketahui dari catatan sejarah.

Ditemukan di Dekat Kota Xianyang
Arkeolog menemukan makam ini di dekat kota Xianyang, Provinsi Shaanxi, sekitar 900 kilometer dari Beijing. Menurut laporan kantor berita Xinhua, makam tersebut adalah milik Kaisar Xiaomin, atau Yuwen Jue, pendiri Dinasti Zhou Utara pada tahun 557.

Namun, sejarah mencatat bahwa Jue hanya memerintah selama beberapa bulan sebelum digulingkan dan dihukum mati. Ia bahkan baru diakui sebagai kaisar beberapa dekade setelah kematiannya.

Di dalam makam, terdapat prasasti yang ditulis dengan huruf merah menggunakan cinnabar (sejenis mineral). Prasasti ini menyebut Jue sebagai "Adipati Lueyang," bukan sebagai kaisar.

Sebuah prasasti di makam menggambarkan orang yang dimakamkan di sana sebagai seorang “adipati”, tetapi dia kemudian dikenal sebagai kaisar pertama dinasti Zhao Utara.
Sebuah prasasti di makam menggambarkan orang yang dimakamkan di sana sebagai seorang “adipati”, tetapi dia kemudian dikenal sebagai kaisar pertama dinasti Zhao Utara.

Makam Keluarga Kerajaan
Makam ini ditemukan di wilayah yang dikenal memiliki banyak makam bangsawan dari zaman tersebut. Sebelumnya, makam adik Jue juga ditemukan di dekat lokasi itu, sementara makam saudaranya yang lain, Yuwen Yong (Kaisar Wu), berada sekitar 8 kilometer di sebelah timur.

Makam Jue memiliki ruang berbentuk tanah sepanjang 56 meter dan sedalam 10 meter. Meski pernah dirampok, para arkeolog berhasil menemukan 146 artefak, seperti patung terakota dan tembikar.

Para arkeolog mengatakan bahwa prasasti di makam tersebut menegaskan adanya perebutan kekuasaan atas takhta yang sampai sekarang hanya diketahui dari catatan sejarah.
Para arkeolog mengatakan bahwa prasasti di makam tersebut menegaskan adanya perebutan kekuasaan atas takhta yang sampai sekarang hanya diketahui dari catatan sejarah.

Perebutan Kekuasaan
Prasasti di makam Jue memberikan bukti nyata tentang perebutan kekuasaan pada masa awal Dinasti Zhou Utara. Saat itu, Tiongkok terpecah menjadi beberapa kerajaan kecil yang sering berperang.

Jue menjadi kaisar dengan bantuan sepupunya, panglima perang Yuwen Hu, setelah ayahnya, Yuwen Tai, meninggal pada tahun 556. Namun, ketika Jue berusaha melawan pengaruh Hu, ia digulingkan dan dihukum mati. Hu kemudian mengangkat saudara Jue, Yuwen Yu, sebagai kaisar berikutnya, tetapi Yu juga akhirnya diracun oleh Hu.

Perebutan kekuasaan ini berakhir ketika Yuwen Yong, saudara lain Jue, membunuh Hu pada tahun 572 dan menjadi Kaisar Wu. Setelah itu, Jue baru diakui sebagai kaisar pertama Dinasti Zhou Utara, sekitar 37 tahun setelah kematiannya.

Prasasti di makam Jue menunjukkan bahwa ia dimakamkan sebagai adipati, sesuai dengan statusnya pada saat itu, bukan sebagai kaisar. (*)

Editor : Richard Lawongan
#Perebutan kekuasaan #Prasasti cinnabar #Makam Kaisar Tiongkok #Xianyang #Dinasti Zhou Utara #Panglima perang #Yuwen Hu #Sejarah Tiongkok kuno #Yuwen Jue #Artefak terakota